Satelit9.com,Semarang- Kaum Muslim diimbau menyikapi secara cerdas atas munculnya blur Innocence of Muslims yang menghina Nabi Muhammad SAW."Jangan sedikit-sedikit ngamuk, jangan mudah terprovokasi, dan jangan mudah terpancing emosi dengan munculnya blur picisan semacam itu. Kita harus menyikapinya secara lebih cerdas," kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (15/9).
Komaruddin mengatakan, film-film yang menjelekkan Islam banyak. Sehingga, Muslim harus mampu menyikapinya secara cerdas, jangan ikut-ikutan dengan aksi dan reaksi masyarakat negara lain dalam memprotes blur tersebut.
"Buku yang menjelekkan Islam banyak, film-film yang menjelekkan Islam juga banyak. Namun, apakah Islam akan jatuh dengan blur picisan semacam itu? Apakah Nabi Muhammad SAW kemudian jatuh martabatnya? Tidak," katanya.
Kalau ada kekerasan fisik, kata Guru Besar Filsafat Agama UIN Jakarta itu, lawan secara fisik, demikian juga dengan kekerasan simbolik yang harus dilawan secara simbolik, seperti buku atau blur yang merupakan simbolik.
"Kalau buku kan simbolik, hantam dan tulis dengan buku. Blur juga simbolik, lawan dengan buat film. Kalau bisa, kalau tidak ya biarkan saja. `Ngapain` blur picisan semacam itu ditonton? Saya tidak nonton," katanya.
Ia mengakui reaksi masyarakat di sejumlah negara atas blur itu sangat besar. Namun patut dimaklumi, karena negara-negara di Timur Tengah tersebut memang sedang mengalami krisis politik.
"Apakah kita lantas ikut-ikutan? Rakyat di negara itu menjatuhkan pemimpinnya, kita ikut-ikutan? Kan tidak juga. Problem yang dihadapi memang berbeda, kita punya tradisi sendiri, sejarah sendiri," kata Komaruddin.
Di Barat sendiri, kata dia, Kristen memiliki banyak sekte, dan orang Kristen di negara Barat juga banyak yang benci dengan blur yang menghina Nabi Muhammad SAW itu sehingga tidak boleh seenaknya digeneralisasi.
"Apakah dikira orang Buddha di sini senang dengan yang dilakukan orang Buddha di Rohingya? Apakah orang Kristen di sini senang dengan yang membuat blur itu? Tidak. Kita tidak bisa seenaknya capital generalisasi," kata Komaruddin.(Deko)