![]() |
| upacara tradisi pembaretan |
Pembaretan dipusatkan di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Grati, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (15/3/2012), pukul 15.00 Wib.
Dari 413 prajurit yang berhak memakai baret kabanggaan Korps Marinir tersebut, 24 orang diantaranya adalah Kadet (Taruna) Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-58 dan 389 orang merupakan siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Diktama) TNI AL angkatan ke-31.
Mewakili orang nomor satu Korps Baret Ungu Dankormar Mayor Jendral TNI Mar Alfan Baharudin yang berhalangan hadir, Danpasmar I Surabaya Brigjen TNI Mar Tommy Basari Natanegara dalam amanatnya menyampaikan bahwa upacara pembaretan merupakan salah satu tradisi khas Korps Marinir yang mengandung makna penting dan bersejarah bagi setiap prajurit Korps Marinir.
"Setelah diresmikan pemakaian baret, seorang prajurit secara sah menjadi keluarga besar Korps Marinir, sekaligus memiliki kewajiban mutlak berprilaku dan bertindak sesuai landasan moral prajurit Korps Marinir," kata Brigjen TNI Mar Tommy Basari Natanegara.
Bagi Kadet, lanjutnya, nilai-nilai moral tersebut harus sudah tercermin dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di lembaga pendidikan AAL. Sehingga dalam proses pembelajaran secara bertahap, karakter prajurit Korps Marinir sudah meulai terbentuk dan berkembang.
Sementara bagi siswa Dikmata, pemakaian baret marinir adalah titik awal memulai proses pengabdian kepada negara dan bangsa melaui Korps Marinir.
"Mulai saat ini tumbuhkan dan pupuk kesadaran baru bahwa kalian sebagai prajurit Marinir harus menjadi kebanggaan rakyat yang bisa diandalkan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI," serunya.
Sementara Dankodikmar Kolonel Mar Hasanuddin mengatakan sebelum prajurit marinir berhak mengenakan 'baret unggu', harus mengikuti Pendidikan Komando (Dikko) yang berlangsung selama 3 bulan terakhir dari 6,5 bulan masa pendidikan.
"Setelah Dikko, mereka sah menjadi keluarga besar Korps Marinir dan berhak mengenakan baret unggu, baret kebanggaan marinir," kata Kolonel Hasanuddin.
