![]() |
| Partai Demokrat |
Satelit9.com,Jakarta-Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dalam analisis risetnya menyatakan rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bakal dibarengi subsidi bantuan langsung tunai (BLT), dipersepsikan publik akan memberikan "berkah" berupa dukungan kepada Partai Demokrat.
Peneliti LSI Adjie Alfaraby kepada pers di Jakarta, Minggu (11/3), mengatakan, survei LSI terhadap 440 responden pada Maret 2012 menyebutkan sebanyak 69,64 persen responden setuju atas BLT berupa pemberian uang tunai langsung, sedangkan 28,69 persen responden tidak menyetujui BLT dan 1,67 persen reponden tidak menjawab.
Survei LSI tersebut dilaksanakan pada 5-8 Maret 2012 di 33 provisi dengan menggunakan metode "multistage random sampling". Jumlah responden sebanyak 440 orang, serta tingkat kesalahan (margin of error) sekitar 4,8 persen.
Adjie mengatakan, dalam survei itu terdapat 54,36 persen responden menilai Partai Demokrat yang paling berjasa jika BLT dijalankan, sedangkan PDIP (8,14 persen), Golkar (7,85 persen), partai lainnya (4,65 persen) dan tidak menjawab (25 persen).
Selain itu, sebanyak 53,74 persen responden memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai tokoh yang dinilai paling berjasa jika BLT dijalankan, sedangkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa dipilih 19,25 persen responden, Menko Kesra Agung Laksono (1,72 persen), Menteri ESDM Jero Wacik (3,45 persen), menteri lainnya (5,75 persen) dan yang tidak menjawab (16,09 persen).
Adjie mengatakan, terhadap pertanyaan jika harga BBM naik, maka partai yang paling bisa dipersalahkan yakni Demokrat oleh 54,6 persen responden, partai lainnya (11,57 persen) dan tidak menjawab 34,16 persen.
Sebanyak 86,60 persen responden menyatakan tidak setuju apabila harga BBM dinaikkan, sedangkan yang menyatakan setuju (11,26 persen) dan tidak menjawab (2,14 persen).
"Survei menyebutkan bahwa lebih 80 persen responden dari yang bepenghasilan Rp200 ribu hingga Rp2 juta per bulan menyatakan tidak setuju harga BBM naik," kata Adjie.
Selain itu, 89,20 persen responden dari kalangan desa dan 77,91 responden dari perkotaan juga menyatakan senada tidak setuju harga BBM naik, serta lebih dari 65 persen responden dari berbagai latar belakang pemilih parpol pada pemilu 2009 dan berlatar belakang berbagai tingkatan pendidikan juga menyatakan tidak setuju harga BBM naik.
"Survei LSI pada Agustus 2005 terdapat 82,3 persen responden tidak setuju harga BBM naik, serta survei LSI pada Mei 2008 terdapat 75,1 responden dan survei LSI pada Maret 2012 terdapat 86,6 persen responden yang tidak setuju harga kenaikan harga BBM," ujar Adjie.
Dia mengatakan, LSI memprediksikan kenaikan harga BBM dan pemberlakuan program BLT besar sekali efeknya untuk menurunkan atau menaikkan dukungan (efek elektoral) bagi Partai Demokrat dan Presiden SBY.
"Parpol lain juga akan memberikan reaksi politik yang aktif dalam soal BBM dan BLT. Parpol selain Demokrat, tidak ingin dirugikan dan tidak rela hanya partai lain yang memperoleh keuntungan politikdan kebijakan itu. Itulah sebabnya `power game` di balik isu BBM dan BLT, akan menjadi menarik khususnya menjelang Pemlu 2014," demikian Adie Alfaraby
