![]() |
| Salah Satu hasil Pekerja Pengrajin Anyaman Manyaran |
Satelit9.com,Wonogiri-Sejak bom Bali 2002 dan gempa Jogja 2006 Kini kerajinanLampu duduk, pot bunga, rantang, tempat kosmetik,Warga Dusun Sidoharjo, Desa Karanglor, Kecamatan Manyaran. ini praktis hanya mengandalkan pasar lokal. Dari Jogja kebanyakan untuk wadah nasi di orang punya hajat. “Juni sudah ada pesanan dari Jogja untuk mantenan,” tegasnya Widiyatno
Dia mengaku tidak untung banyak dan juga tidak rugi dengan kerajinan ini. Awalnya saat kecil dia membuat tompo dan kukusan dengan bapaknya. “Kalau dulu kukusan seratus biji dijual bisa untuk hidup satu minggu, sekarang?,” terangnya. seketika itu pula pesanan mulai berkurang. Kini kendala tenaga ahli dalam menganyam beberapa bentuk khusus juga mulai dihadapi. Akibatnya untuk pesanan dari luar negeri yang sempat masuk ditolak karena tidak bisa memenuhi kuota.
“Dari New Zealand pernah memesan yang bentuk lampu duduk, tapi karena tenaga yang bisa menganyam jenis tertentu sedikit akhirnya tidak bisa penuhi kuota dan tidak berani memenuhi pesanan,” kata Widiyatno, saat ditemui beberapa waktu lalu.Lampu duduk, pot bunga, rantang, tempat kosmetik, tenong, piring, topi pet, nampan, piring, cething, tempat sendok, tempat mangkok, tempat gelas, tempat pensil, tempat permen, hingga tempat pakaian kotor tertata di dalam rumah Widiyatno warga Dusun Sidoharjo, Desa Karanglor, Kecamatan Manyaran. Semua dibuat dari bentuk dasar anyaman bambu.Kini dia, satu-satunya yang bertahan menjadi perajin di sana. Awalnya ada sekitar 30 orang di Karanglor yang mendapat pelatihan anyaman avant-garde di tahun 1985, kemudian oleh Dinas Perdagangan.
