![]() |
| Warga perbatasan beli BBM di Malaysia |
Satelit9.com,Sintang-Berbagai aksi demonstrasi menolak rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi semakin sering terjadi di Indonesia. Tak jarang aksi-aksi yang semula berjalan damai berujung bentrokan dengan aparat kepolisian.
Tapi, ternyata tidak semua warga memprotes pemerintah atas rencana tidak populis tersebut. Contohnya masyarakat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat yang lokasinya berdekatan dengan perbatasan Malaysia. Harga jual BBM di sana jauh lebih mahal dibandingkan di daerah-daerah lainnya.
Sepanjang perbatasan Sintang, terdapat dua kecamatan dan delapan desa. Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah. Ketungau Hulu ada lima desa yakni Desa Nanga Bayan, Jasa, Rasau, Muakan Petingi dan Sungai Seria. Kecamatan Ketungau Tengah ada tiga desa yakni Nanga Kelapan, Mungguk Gelombang dan Wana Bhakti.
Di sana, untuk membeli BBM, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp 12 ribu per satu liter. Akibat tingginya harga, warga lebih senang membeli BBM dari Malaysia karena harganya jauh lebih murah, yakni sebesar Rp 9 ribu per liter, Sementara satu liter solar dan minyak tanah hanya Rp 8 ribu.
"Kalau bensin Indonesia di sini Rp 12 ribu, tapi kalau dari Malaysia Rp 9 ribu atau sekitar 3 ringgit," kata Koordinator Kelompok informasi masyarakat perbatasan (Kimtas) Kabupaten Sintang, Ambresius Murjani di Pontianak, Rabu (28/3). Demikian dilansir dari Antara
Untuk mendapatkannya, warga beberapa dusun seperti Sungai Kelik mendapatkan BBM dari Lacau (Malaysia), Nanga Bayan dari Goaming, Jasa dari Repak Tepus dan Semarik dari Telepung.
"Jadi kenapa tidak nampak gejolak di perbatasan, karena dengan harga murah pun kami mendapatkannya tetap mahal," katanya. Dia juga menambahkan, masyarakat setempat tidak akan membeli BBM dari Indonesia jika keadaan tidak memaksa.
Karena itu, lanjut Ambresius, kalaupun harga BBM bersubsidi dinaikkan, tidak banyak mempengaruhi kehidupan penduduk warga Sindang. Pengaruh yang dirasakan justru dari biaya transportasi.
Sebelum pemerintah mengumumkan rencana kenaikan harga BBM, warga Kota Sintang hanya membayar Rp 250 ribu untuk menuju Kecamatan Senaning dekat perbatasan Malaysia. Kini, mereka harus membayar Rp 300 ribu jika ingin menaiki angkutan umum.
"Kenaikan itu sejak isu harga BBM akan naik," sahutnya singkat.
Sementara dari Kota Sintang ke Merakai, berkisar Rp 100 ribu hingga Rp120 ribu. "Untuk angkutan di perbatasan, (kenaikan) hampir 100 persen memang menggunakan mobil Strada (dobel cabin dan gardan)," kata dia lagi.
Meski begitu, jika pemerintah tetap berpegangan pada keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, Ambresius meminta agar ada perbaikan terhadap harga produk pertanian dan perkebunan. Khususnya wilayah perbatasan di Kabupaten Sintang, penduduk setempat kebanyakan bekerja di perkebunan karet, kelapa sawit dan lada.
Sebab, warga lebih memilih menjual lada ke Malaysia dibanding Indonesia. Pengusaha Malaysia mau mensubsidi petani lada Indonesia di perbatasan. Sementara sawit dan karet selama ini dijual ke wilayah Indonesia. Di negeri Jiran itu, Lada hitam dijual seharga 10 ringgit Malaysia sedangkan lada putih 12 ringgit Malaysia.
"Kami mengharapkan ada keseimbangan harga hasil pertanian dan perkebunan, agar warga bisa mendapatkan untung," katanya mengingatkan.(Sbk)
