![]() |
| Kota Bangkok |
Satelit9.com,Jakarta-Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menaikkan level Country Risk Classification (CRC) Indonesia dari 4 menjadi 3.
Dalam publikasinya mengenai penilaian umum mengenai risiko ekonomi dan politik sebuah negara, Indonesia berada di level 3 bersama 17 negara lainnya termasuk Brazil, India, Rusia, dan Thailand. Sebelumnya, Indonesia berada di level 4 pada 2 April tahun 2010 bersama Philipina, Mesir, dan Uruguay.
Menurut penilaian OECD, negara-negara maju berpendapatan tinggi seperti Amreika Serikat, Jepang, Singapura, dan negara-negara kawasan Eropa diklasifikasikan pada level 0 atau sebagai negara yang paling minim risiko. Sementara negara-negara yang berisiko tinggi seperti Argentina, Rwanda, Chad, Ethiophia menempati level 7. OECD menggunakan skala klasifikasi penilaian 0-7.
alam keterangannya, OECD menjelaskan penilaian atas country risk tersebut dilakukan melalui dua langkah metodologi. Pertama, penilaian dilakukan dengan menggunakan Country Risk Assessment Model (CRAM) yang didasarkan pada tiga kelompok indikator risiko, yakni sejarah pembayaran negara yang dinilai, situasi keuangan dan situasi ekonominya.
Kedua, hasil penilaian kualitatif dengan CRAM yang dilakukan oleh para ahli country risk dari negara-negara OECD dinilai satu per satu dan digabungkan dengan faktor-faktor lain yang tidak dinilai oleh CRAM, seperti risiko politik dan risiko lainnya. Hasil akhir dari klasifikasi country risk ini dicapai melalui diskusi diantara para pakar-pakar OECD melalui konsensus.
Pengamat ekonomi A. Prasetyantoko mengatakan, ekonomi makro Indonesia memang saat ini bagus dibandingkan dengan negara kawasan Asia. Terlihat Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di akhir tahun lalu. Di tambah lagi tingkat inflasi Indonesia masih terkontrol.
"Jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, seperti di kawasan regional, makro ekonomi Indonesia bagus. Fundamental ekonomi kita kuat. Demo kemarin kan lebih pada dinamika politik, dan itu masih terkendali," ujarnya.
Dia mengatakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif. Sebab, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat yakni ditopang dari tigginya konsumsi dalam negeri. "Meski ada persoalan budged anggaran, itu masih bisa diatasi. Kondisi ekonomi makro Indonesia akan tetap terjaga pertumbuhannya, karena fundamental ekonomi kita bagus," katanya.(sbk)
