Satelit9.com-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa Aceh pada pukul 19.45 WIB, Rabu (11/4) malam. Tidak ada kerusakan parah akibat tsunami, padahal gempa yang terjadi cukup kuat, 8,5 Skala Richter (SR).Gempa Aceh 2004 dan 2012 berbeda jauh karena delapan tahun lalu lokasi gempa di sepanjang zona subduksi pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sekarang ini berlokasi di lempeng Indo-Australia, kata Pakar Tsunami Doktor Subandono Diposaptono."Beda jauh, dulu gempa terjadi di pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sekarang terjadi di lempeng Indo-Australia, atau sekitar 175 km lebih ke selatan," kata Subandono yang juga Direktur Tata Ruang Laut dan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan
Dengan demikian gempa Aceh yang terjadi kali ini merupakan gempa intraplate, bukan interplate seperti gempa Aceh berkekuatan 9,1 skala Richter pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa intraplate tidak menyebabkan tsunami yang besar seperti halnya gempa interplate yang berada di zona subduksi.
"Gempa Aceh 2004 menyebabkan tepian dari lempeng Indo-Australia melenting ke atas sepanjang 1.300 km tegak lurus zone penunjaman tempat lempeng Samudra Hindia menyusup di bawah lempeng Eurasia (megathrust), dari mulai Simeuleu sampai Andaman dan membuat air laut surut dan kemudian menghempas ke daratan," katanya.
Gempa kali ini, kata dia, hanya menyebabkan gerakan mendatar yang menyebabkan getaran dan riak gelombang di lautan. Kalaupun ada tsunami paling-paling tingginya hanya 10--20 cm saja atau paling tinggi tak lebih dari semeter.
Berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya yang melanda pesisir Pulau Sumatera, gempa 8,5 SR yang terjadi pada pukul 15.38 WIB pada kedalaman 10 km di 346 Barat daya Simeulue memang ditetapkan berpotensi tsunami.
Tapi hingga peringatan diperpanjang dua kali, tsunami yang terjadi tidak dalam ukuran kuat. Di Meulaboh ketinggian air laut hanya mencapai 80 cm. Mengapa tsunami besar kali ini tidak terjadi?
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan gempa kali ini bersumber dari sesar geser. "Bukan sesar naik (bukan mega trust) sehingga potensi tsunami tidak terlalu besar. Lokasinya di bagian luar dari daerah pertemuan lempeng (outer rise earthquake),"
Alasan berikutnya adalah, gempa terjadi bukan di zona utama, di mana tsunami terbesar dimungkinkan terjadi. Tsunami bisa terjadi tapi lebih kecil daripada apabila epicenter berada di zona penunjaman utama
Alasan ketiga, kejadian gempa 8,6 SR yang diikuti dengan gempa 8,1 SR, dua jam kemudian terjadi di bagian lempeng Indo Australia. Gempa ke-2 berjarak lebih dari 100 km dari gempa pertama ke arah barat (menjauh dari Sumatera). "Gempa pertama memiliki mekanisme sesar geser sehingga potensi besar lebih kecil dari sesar naik," jelasnya.
Terkait upaya yang sudah dilakukan, BNPB bekerja sama dengan TNI telah menyiapkan tim khusus dan peralatan untuk kebutuhan logistik.Gempa tersebut langsung memancing reaksi belasungkawa dari segala penjuru dunia dan menjadikan salah satu Trending Topic tertinggi di Twitter dan Facebook. Banyak pengguna Facebook, khususnya Twitter yang menuliskan rasa simpati dengan saling berbagi komentar. Mereka membuat dua hashtag utama yaitu #PrayForSumatera dan #PrayForIndonesia. Tidak membutuhkan waktu lama, hashtag tersebut muncul tidak hanya di Twitter namun juga di Facebook dan situs jejaring sosial lainnya.