Satelit9.com,Jakarta- Ternyata, empat pesawat Hercules C 130 yang diterima oleh Presiden SBY dalam kunjungannya di Australia, sebenarnya tidak layak terbang. Pesawat tersebut perlu diperbaiki lagi dan harus menelan biaya USD 60 juta dengan asumsi USD 15 juta untuk setiap pesawat.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, Minggu (8/7). Ia pun menilai janggal jika dalam waktu bersamaan Australia juga menawarkan enam pesawat sejenis dan dalam kondisi siap operasional seharga USD 90 juta atau USD 15 juta per unitnya. "Ini berarti harga jual dan harga hibah sama," tandas Anggota Komisi Pertahanan DPR ini.
Karena itu, Hasanuddin menyarankan agar pemerintah dengan dana USD 150 juta membeli lima assemblage Hercules baru. "Dengan pesawat baru, kita mampu menghemat biaya pemeliharaan dan jumlah jam terbang yang banyak serta aman dipakainya," tutur politisi PDIP ini.
Menurutnya, hingga saat ini hibah empat pesawat Hercules itu belum mendapatkan persetujuan DPR. Merujuk pada pasal 23 ayat (1) Undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, maka hibah dari pemerintah atau lembaga asing harus dengan persetujuan DPR.
Hasanuddin mengaku telah mendapat informasi bahwa Indonesia juga ditawari belasan pesawat F5 yang sudah di-grounded dari Korea Selatan. "Hibah-hibah seperti ini sangat tidak efisien dan ujung-ujungnya hanya akan menjadi beban untuk TNI," ungkap purnawirawan Mayjen TNI ini.
Ia mencontohkan, puluhan kapal tempur TNI AL dari eks Jerman Timur yang ujung-ujungnya hanya menjadi beban keuangan negara dan tak menambah kekuatan fleet laut Indonesia. "Padahal biaya membawa dari Jerman dan kemudian memeliharanya juga sangat besar. Hentikan pembelian rongsokan dengan uang rakyat," bebernya(@eko)
.jpg)