Satelit9.com,Jakarta-Sejumlah partai politik mapan, di antaranya, PPP, Partai Golkar, PKB, Hanura, PKS, dan Partai Demokrat, mengusung pasangan calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara).Sementara pesaingnya pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahja Purnama (Ahok) hanya didukung PDIP dan Gerindra. Bagaimana peluang mereka?
Pengamat politik dari Universitas Gajah Mada, Arie Sujito menilai, peluang menang Jokowi tetap tinggi. Meski hanya dibekingi Gerindra dan PDIP, Wali Kota Solo itu bakal tetap mendapat suara signifikan karena ketokohannya.
Pengajar sosiologi ini mengakui, PKS akan memberi suara signifikan pada Foke-Nara. Sebab, partai ini dikenal memiliki kader militan.
Namun, Jokowi-Ahok memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Jakarta. Terlebih lagi, ada beberapa isu yang membuat pasangan incumbent Foke-Nara tidak disukai publik, seperti SARA dan pernyataan-pernyataan kontroversial Foke. “Jokowi tidak gampang dikalahkan. Isu SARA belum tentu efektif,” terangnya.
Arie menilai, kekuatan Jokowi akan ditentukan oleh kemampuannya mengatur strategi. Dia tidak akan bisa menggunakan strategi yang sama seperti di putaran pertama. Lawan kali ini lebih tangguh. “Sekarang ketika Jokowi dikepung banyak partai, punya strategi baru nggak dia?” tanya Arie.
Seminggu setelah libur Lebaran, Arie memprediksi, bakal terjadi kehebohan luar biasa di Jakarta. Perang akan semakin terbuka, dan suasana sengit antar kandidat bakal tercipta. “Kalau langkah Jokowi diikuti oleh figur besar, maka Jokowi tidak akan gampang dikalahkan,” tuturnya.
Direktur Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, melihat dua alasan menganalisa efektifitas koalisi partai-partai politik yang dibangun dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini. Khusus putaran kedua, Ray melihat, Foke masih sulit menaklukkan Jokowi.
Dia menjelaskan, pertama, koalisi besar partai-partai politik pendukung Foke diprediksi akan mengumpulkan suara sekitar 48-50 persen. Rinciannya, hasil dari koalisi PKS dan PAN menyumbang 12 persen, koalisi PPP dan Golkar sekitar 4 persen, dan perolehan suara Foke-Nara pada putaran pertama 32 persen. Diprediksi perolehan suara Foke-Nara masih kisaran 48 persen.
Kedua, Ray melihat peta pemilih di Jakarta adalah pemilih advanced dan rasional. “Terlihat mereka tidak terlalu tergantung pada arahan partai. Parpol bukan gerbong utama yang dapat menarik minat pemilih ke TPS, bahkan minat pemilih untuk menentukan calon mereka.(@eko)