Satelit9.com,Yogyakarta-Satu satuan setingkat kompi (SSK) prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup 2 Kartasura, Sukoharjo membedah perut hiu tutul yang terdampar di Pantai Pandansimo Baru, Desa Poncosari, Srandakan, Bantul, Jumat (3/8). Tim yang berjumlah sekitar 35 prajurit ini mengeluarkan seluruh jeroan sehingga bagian dalam ikan raksasa ini dipastikan kosong.
“Ini merupakan upaya awal dalam proses pengawetan. Isi perut menjadi bagian utama yang harus dihilangkan karena ini mudah membusuk,” tegas Komandan Kompi Tim Kopassus, Kapten (Inf) Muhammad Azis.
Setelah seluruh jeroan ikan hiu tutul ini benar-benar kosong, prajurit langsung menyuntikkan bahan pengawet yang berasal dari cairan hasil proses pembakaran batok kelapa. Puluhan liter obat pengawet ini disuntikkan ke beberapa titik permukaan tubuh ikan hingga merata.
Dengan pengawetan sementara ini setidaknya bangkai ikan akan mampu bertahan selama sekitar 20 hari. Pasukan baret merah ini bertugas hanya untuk melakukan pengawetan tahap awal saya, sementara untuk evakuasi dan pengawetan selanjutnya akan dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul.
“Evakuasi tentunya akan melibatkan beberapa alat berat. Disamping bobot ikan yang mencapai puluhan ton, proses evakuasi juga harus dilakukan secara hati-hati agar bangkai ikan tidak rusak,” katanya.
Untuk sementara bangkai hiu tutul masih berada di lokasi semula dengan diberi pembatas badge band yang dijaga nelayan dan warga sekitar secara bergantian. Sementara jeroan hasil pembedahan selama hampir empat jam yang dilakukan prajurit bersama petugas kesehatan tadi dikubur di sekitar pantai agar tidak mengundang lalat dan penyakit.
Ribuan warga berdatangan untuk menyaksikan proses pembedahan tersebut. Walau bau amis menyengat namun hal itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk menyaksikan secara langsung peristiwa langka itu. (yanto/@Maghfur Ghazali)
“Ini merupakan upaya awal dalam proses pengawetan. Isi perut menjadi bagian utama yang harus dihilangkan karena ini mudah membusuk,” tegas Komandan Kompi Tim Kopassus, Kapten (Inf) Muhammad Azis.
Setelah seluruh jeroan ikan hiu tutul ini benar-benar kosong, prajurit langsung menyuntikkan bahan pengawet yang berasal dari cairan hasil proses pembakaran batok kelapa. Puluhan liter obat pengawet ini disuntikkan ke beberapa titik permukaan tubuh ikan hingga merata.
Dengan pengawetan sementara ini setidaknya bangkai ikan akan mampu bertahan selama sekitar 20 hari. Pasukan baret merah ini bertugas hanya untuk melakukan pengawetan tahap awal saya, sementara untuk evakuasi dan pengawetan selanjutnya akan dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul.
“Evakuasi tentunya akan melibatkan beberapa alat berat. Disamping bobot ikan yang mencapai puluhan ton, proses evakuasi juga harus dilakukan secara hati-hati agar bangkai ikan tidak rusak,” katanya.
Untuk sementara bangkai hiu tutul masih berada di lokasi semula dengan diberi pembatas badge band yang dijaga nelayan dan warga sekitar secara bergantian. Sementara jeroan hasil pembedahan selama hampir empat jam yang dilakukan prajurit bersama petugas kesehatan tadi dikubur di sekitar pantai agar tidak mengundang lalat dan penyakit.
Ribuan warga berdatangan untuk menyaksikan proses pembedahan tersebut. Walau bau amis menyengat namun hal itu tak menyurutkan minat masyarakat untuk menyaksikan secara langsung peristiwa langka itu. (yanto/@Maghfur Ghazali)
