• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Penyelenggaraan PON XVIII di bawah bayang-bayang korupsi besar

    Last Updated 2012-08-26T05:01:53Z


    Satelit9.com-SEKITAR dua pekan lagi kita akan menggelar Pekan Olahraga Nasional. Pesta olahraga yang diselenggarakan berdekatan dengan Hari Olahraga Nasional 9 September diharapkan menjadi ajang unjuk kemampuan atlet-atlet terbaik nasional.
    Kita berharap PON XVIII di Pekanbaru, Riau mampu mempertunjukkan kebugaran dan kehebatan dari generasi muda. Kita semua tahu bahwa di dalam tubuh yang sehat, akan tersimpan jiwa yang sehat, mens sana in corpore sano.
    Apabila kita ingin meraih kemajuan, maka kita membutuhkan generasi muda yang penuh vitalitas dan semangat tinggi. Hanya dengan pemuda-pemuda yang sehat, kita akan bisa membangun negeri. Bahkan kita bukan hanya sekadar membutuhkan pribadi-pribadi yang berbadan sehat, tetapi juga jiwa dan pikirannya yang sehat.
    Kita percaya bahwa bangsa ini memiliki banyak pemuda yang hebat-hebat. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk unjuk kemampuan dan teladan bagaimana menerjemahkan kehebatan yang mereka miliki itu untuk kemajuan bangsa.
    Berulangkali kita mengharapkan para pemimpin untuk tampil membangunkan harapan bagi generasi muda. Kita tidak pernah bosan untuk meminta para pemimpin menjadi archetypal yang baik bagi bangsa ini.
    Sayang harapan kita itu selalu dianggap angin lalu. Mereka tidak pernah menyadari bahwa yang sedang mereka pertontonkan sekarang ini justru contoh yang buruk. Pemimpin bukan hadir untuk mengabdi kepada bangsanya, tetapi menjadikan kekuasaan itu sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri.
    Belum hilang dari ingatan kita kasus korupsi pada pembangunan Wisma Atlet SEA XXVI di Palembang, Sumatera Selatan. Anggota DPR seperti Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, I Wayan Koster mengutip anggaran kegiatan olahraga itu untuk kantong pribadi mereka.
    Seakan tidak jera dengan nasib yang dialami Nazaruddin dan Angelina Sondakh, penyelenggaraan PON XVIII juga sarat dengan praktik korupsi. Sebanyak 14 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan bahkan sebagai terdakwa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, beberapa lagi masih dalam penyidikan.
    Korupsi yang terjadi dalam penyelenggaraan PON XVIII juga gila-gilaan. Proyek triliunan rupiah dalam penyelenggaraan benar-benar dijadikan ajang untuk "berpesta-pora". Begitu asyiknya para pejabat itu korupsi, sehingga lupa akan tugas utama yang harus mereka jalankan, yakni bagaimana membuat penyelenggaraan PON XVIII itu berjalan sukses.
    Sukses bukan hanya sekadar semua pertandingan olahraga bisa diselenggarakan dengan baik. Yang lebih utama harus bisa diraih dari penyelenggaraan PON adalah bagaimana menghasilkan pemuda-pemuda Indonesia yang sehat badannya dan sehat jiwanya.
    Hingga dua pekan menjelang acara pembukaan, tujuh tempat pertandingan belum juga selesai dibangun. Bahkan dua tempat pertandingan untuk cabang menembak dan futsal baru dimulai pembangunannya.
    Ketua Panitia Penyelenggara PON XVIII Rusli Zainal optimistis bahwa pembukaan akan bisa dilaksanakan pada tanggal 12 September. Kita percaya bahwa penyelenggaraan PON XVIII akan bisa tepat waktu, seperti kebiasaan selama ini. Hanya saja dengan pengerjaan yang serba terburu-buru, kualitas tempat pertandingan pasti tidak akan pernah optimal. Dengan kualitas tempat pertandingan yang tidak prima, akan sulit bagi para atlet untuk bisa meraih prestasi terbaik.
    Baru saja kita menyaksikan penyelenggaraan Olimpiade London 2012. Kita melihat bagaimana Wali Kota London, Boris Johnson mempersiapkan kotanya sebagai tempat penyelenggara pesta olahraga dunia. Satu tahun sebelum penyelenggaraan Olimpiade London dibuka, seluruh tempat pertandingan sudah siap untuk dipakai. Dengan manajemen yang sempurna seperti itu, bukan hanya semua negara peserta Olimpiade London merasa puas, tetapi rakyat Inggris bangga dengan pencapaian yang telah bisa mereka raih.
    Mengapa kita begitu sulit untuk belajar kepada bangsa-bangsa lain? Mengapa penyelenggaraan pesta olahraga tidak bisa kita pakai sebagai drive untuk membangun kebanggaan? Mengapa setiap ada proyek besar yang lebih diincar adalah kesempatan untuk memperkaya diri?
    Kita sungguh prihatin bahwa penyelenggaraan PON XVIII diselenggarakan di bawah bayang-bayang korupsi besar. Bagaimana para atlet saling bertanding di tengah pejabat-pejabat yang lebih peduli bisa memperkaya diri, bukan mendorong peningkatan prestasi.
    Padahal penyelenggaraan PON di luar Jakarta sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk mendorong pembangunan ke daerah. Itu seharusnya merupakan kesempatan bagi daerah untuk bisa mendapatkan panggung besar dan mengejar kemajuan Jakarta. Sayang peluang itu tidak pernah dipergunakan dan setiap kali PON diselenggarakan yang lebih menonjol adalah praktik korupsinya. Ironis sekali bangsa ini!
    Komentar
    • Penyelenggaraan PON XVIII di bawah bayang-bayang korupsi besar

    Terkini

    Topic Popular