Satelit9.com, Jakarta-PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) harus siap-siap menghadapi masa kehancurannya. Alasannya karena partai ini sudah keluar dari garis perjuangannya. Partai ini sudah menjadi partai pragmatis dan ekslusif.
Hal tersebut dikemukakan Pengamat Pilkada dari The Indonesian Reform, Martimus Amin. Menurutnya, dukungan PKS terhadap sosok Fauzi Bowo alias Si Kumis pada Pemilukada DKI Putaran kedua telah menjadi pembuktian bahwa PKS akan segera hancur akibat ulah-ulah elitnya yang tidak mampu memahami kemauan konstituennya.
Dalam Pilgub Putaran 2, PKS inkonsistensi, PKS keluar dari khittah partai yang mengaku punya abracadabra bersih dan terbuka. Tapi ternyata tidak sesuai. Ini akan jadi awal kehancuran PKS, kata Martimus di Jakarta, Kamis (16/8).
Pernyataan Martimus ini mengacu pada dukungan PKS yang secara mengejutkan jatuh pada Fauzi Bowo, Cagub bounden yang diduga banyak terlibat korupsi di Pemprov DKI. Mestinya kata dia, PKS secara jantan dan tegas menolak Foke, karena skandal korupsinya tersebut.
Ijtihad PKS salah. Dulu pada putaran pertama, PKS menjelek-jelekkan Foke, sekarang malah memuji-muji. Apalagi kalah, menang saja, PKS hancur, jelasnya.
PKS tidak bisa menangkap tafsir politik apa yang menjadi kemauan konstituennya. Artinya, terjadi breach personality di petinggi PKS, yakni ketika mendukung Foke tidak percaya diri.
Dikatakannya, meskipun misalnya Foke memenangi Pilgub DKI Jakarta putaran kedua, beban dosa pemerintahan masa lalu dan yang sedang dijalankannya turut ditanggung oleh PKS.
Pada Pilgub putaran kedua diperkirakan bakal lebih seru, menegangkan, dan mencekam. Apalagi Foke saat ini tidak hanya diusung Partai Demokrat, PAN dan Hanura, kini tergabung Partai Golkar, PPP, PKS, dalam satu biduk pemenangan.
Namun, apakah suara-suara rakyat bisa digadaikan pada partai-partai itu? Kita lihat saja pada 20 September mendatang.(@eko)
