Satelit9.com,Jakarta- Saat ini, kondisi Solo, Jawa Tengah, semakin rawan. Setelah sebelumnya terjadi kerusuhan pada 4-5 Mei lalu, belakangan terjadi tiga aksi teror menjelang Lebaran.
Pertama, penembakan pos pengamanan Lebaran di Gemblekan pada 17 Agustus yang mengakibatkan dua polisi terluka. Kedua, pelemparan granat pada Pospam Gladak pada 18 Agustus. Ketiga, pelaku melempar molotov saat dikejar aparat usai pelemparan granat.
"Kerawanan ini terjadi akibat ketidakmampuan Kapolrestanya dalam membangun sinerji dan sistem keamanan di wilayah tugasnya. Salah satu contoh, dalam HUT Polri 1 Juli 2012 lalu, tidak ada anggota Muspida yang hadir. Ini menunjukkan pola pembinaan dan pendekatan yang dilakukan pimpinan Polri di Solo sangat buruk," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, beberapa saat lalu (Minggu, 26/8).
Karena itu, Neta mendesak Polri segera menuntaskan kasus penembakan di Solo ini agar krisis kepercayaan publik terhadap Polri bisa dihindari. Selain itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo perlu mengevaluasi dan mencopot para pimpinan kepolisian di daerah yang berkinerja buruk dan tidak mampu membangun sinergi di wilayah tugasnya.
"Seperti (mencopot) Kapolresta Solo," demikian Neta. [Cool/Sbk)
.jpg)