Satelit9.com,Pacitan- Puluhan warga miskin dari sejumlah desa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) kini ramai-ramai "turun gunung" menjadi pengemis.Warga miskin Pacitan asal kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini  terpaksa menjalani profesi sebagai pengemis, karena pada musim kemarau sekarang tak memiliki pekerjaan di desa asalnya. Sebab, selama ini mereka umumnya sebagai buruh tani.
"Dari beberapa pengemis yang pernah kita razia, mereka mengaku terpaksa menjalani profesi sebagai peminta-minta karena di desa asalnya tak memiliki pekerjaan. Pada kemarau ini para pemilik lahan tak membutuhkan tenaganya karena tak mengolah lahan pertanian mereka," kata Kasi Ops Pol PP Ponorogo, Sumartuji, Selasa (11/9).
Karena tak memiliki pekerjaan itu, lalu untuk mendapatkan penghasilan buat kebutuhan makan sehari-hari mereka nekad pergi ke kota seperti di Ponorogo dan Madiun. Sebagi buruh tani, menurut Sumartuji, mereka tak memiliki skill. Maka, ketika mereka burghal ke kota mencari jalan gampangnya dengan menggeluti profesi sebagai pengemis. Ini khususnya dilakukan oleh para buruh tani dari kaum perempuan asal Pacitan.
Sedangkan untuk laki-laki dari mereka ada yang menjadi kuli bangunan, tukang becak atau tenaga buruh kasar secara serabutan (seadanya). Tapi kebanyakan mereka lebih memilih jadi pengemis, karena tak perlu menunggu absolutist melamar pekerjaan. "Begitu datang di kota, mereka langsung beroperasi di perempatan jalan atau meminta-minta di toko-toko, warung, dan rumah-rumah
penduduk," jelas Sumartuji.
Aksi mereka itu sekarang sudah dianggap mengganggu ketertiban umum. Karena mereka melakukan aksinya lebih banyak di perempatan jalan. Apalagi, dari hari ke hari warga miskin asal Pacitan yang menjadi pengemis itu kian banyak jumlahnya, khususnya di hari Jumat.
"Untuk itu, Jumat mendatang ini kami akan melakukan penertiban terhadap pengemis yang beroperasi di perempatan lampu merah atau di jalan-jalan protokol kota. Ini terpaksa kami lakukan, semata hanya untuk ketertiban kota dan kenyamanan pengguna jalan," kata Sumartuji.((@deva)