• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Gerilyawan Gibreel Adam Bilal Bom Ibu Kota Sudan Darfur

    Last Updated 2012-10-28T22:49:54Z


    Satelit9.com,Khartoum- Gerilyawan di Darfur Sudan, Ahad (28/10) menyatakan, membom sebuah kawasan ibu kota negara tersebut dalam serangan yang hampir tidak pernah dilakukan terhadap markas pemerintah, dimana pasukan penjaga perdamaian internasional juga ditempatkan.
    Pemerintah Sudan belum memberikan komentar mengenai laporan itu dan klaim tersebut juga belum bisa dikonfirmasi secara independen.
    Juru bicara kelompok pemberontak Gibreel Adam Bilal mengatakan, gerilyawan menembakkan sejumlah roket Katyusha dan senjata berat lain ke El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara pada Sabtu.
    Menurut Bilal, gerilyawan berusaha menghancurkan pangkalan udara El Fasher sebagai pembalasan atas gempuran udara pemerintah dan serangan oleh milisi yang mendukung mereka di Darfur Utara.
    "Kami tidak bisa tinggal diam di daerah kami menunggu angkatan udara menyerang kami," katanya.
    Gerilyawan dari kelompok-kelompok kuat Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) dan Tentara Pembebasan Sudan (SLA) yang setia pada Minni Minnawi mengambil bagian dalam serangan tersebut, kata Bilal.
    Surat kabar Sudan al-Intibaha melaporkan, tiga roket mendarat sekitar tujuh kilometer sebelah barat El Fasher.
    Misi PBB-Uni Afrika di Darfur (UNAMID) yang memiliki markas di El Fasher, mengatakan, mereka menerima laporan-laporan mengenai tembakan senapan di dekat El Fasher, dan menurutnya bukan hal yang luar biasa.
    Menurut juru bicara UNAMID Aicha Elbasri dalam sebuah pernyataan email tidak ada korban jiwa.
    Jumat, sebuah kelompok pemberontak lain yang bersekutu dengan gerilyawan Darfur membom kota utama negara bagian penghasil minyak Kordofan Selatan selama kunjungan menteri pertahanan Sudan.
    PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab, untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000.
    Pemerintah Sudan menandatangani sebuah perjanjian perdamaian yang disponsori Qatar dengan sebuah aliansi kelompok pemberontak tahun lalu, namun kelompok-kelompok besar menolaknya.
    Kelompok gerilya utama Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menolak perjanjian itu, yang ditandatangani Sudan dan Gerakan Keadilan dan Kebebasan (LJR), sebuah kelompok pemberontak lain di Darfur.
    JEM adalah satu dari sejumlah kelompok Darfur yang memberontak pada 2003 untuk menuntut otonomi lebih luas bagi wilayah barat yang gersang. Mereka kini dianggap sebagai kelompok pemberontak batten kuat di Darfur.
    Perpecahan di kalangan pemberontak dan pertempuran yang terus berlangsung menjadi dua halangan utama bagi perundingan perdamaian yang berlangsung sejak 2003 di Chad, Nigeria dan Libia, sebelum pindah ke Doha, Qatar.
    Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) di Den Haag mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Sudan Omar al-Bashir pada 2009 atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan di Darfur, Sudan barat.
    Bashir juga dituduh melakukan genosida dalam surat perintah penangkapan selanjutnya. Bashir membantah tuduhan-tuduhan pengadilan Den Haag dan menyebutnya sebagai bagian dari konspirasi Barat untuk menjatuhkannya.
    Surat perintah penangkapan itu merupakan yang pertama dikeluarkan pengadilan internasional tersebut terhadap seorang kepala negara aktif.(RZY)
    Komentar
    • Gerilyawan Gibreel Adam Bilal Bom Ibu Kota Sudan Darfur

    Terkini

    Topic Popular