Satelit9.com,Jakarta- Ancaman aksi mogok massal awak angkutan umum
ternyata bukan gertak sambal semata. Hari ini ribuan angkutan umum
benar-benar melakukan aksi mogoknya di ibu kota. Seperti angkutan kota
(angkot) KWK tampak mendominasi aksi mogok di depan kantor Pengujian
Kendaraan Bermotor (PKB) Ujungmenteng, Terminal Bus Kampungrambutan, dan
di perempatan Pasarrebo, Jakarta Timur.
Sedangkan di Jakarta Selatan aksi mogok dilakukan oleh angkutan umum yang biasa melayani 8 trayek antara lain, Kopaja 615 Tanahabang-Lebakbulus, Kopaja P 20 Lebakbulus-Senen, Kopaja 86 Lebakbulus-Kota, KWK 08 Lebakbulus-Pondokaren, KWK S 14 Lebakbulus-Ciledug, KWK S 12 Lebakbulus-Pondoklabu-Jagakarsa, KWK 03 Lebakbulus-Pondokpinang-Kebayoranlama. Akibat aksi mogok ini ribuan penumpang akhirnya terlantar, bahkan banyak di antara mereka yang akhirnya terpaksa tidak masuk kerja.
Ratusan awak angkutan umum mengaku terpaksa mogok agar Perda Nomor 03/2012 tentang Retribusi Angkutan Umum segera dicabut. Alasannya, itu sangat memberatkan awak angkutan umum. Mereka juga mendesak agar retribusi uji kir dihapuskan.
Dalam aksinya, para awak angkutan umum memarkirkan kendaraannya di pinggir Jl Raya Bekasi. Tepatnya di depan kantor PKB Ujungmenteng. Akibatnya kemacetan arus lalulintas tak terelakkan lagi di dua arah, baik dari Bekasi menuju Jakarta maupun sebaliknya hingga mencapai 3 kilometer.
Zolam Manurung (45), pemilik KWK T20 (Kranji-Pulogadung) mengatakan, aksi ini dilakukan serentak di lima wilayah DKI. "Kami lakukan secara massal, menolak retribusi kir dan retribusi masuk ke terminal. Untuk sekali kir saja, kami dipungut Rp 120-150 ribu dan tak pernah ada kwitansi. Tapi bayarnya melalui pengurus KWK," ujar Manurung, Selasa (20/11).
Padahal, sebelumnya uji kir digratiskan sejak adanya affairs kompensasi BBM (bahan bakar minyak). Namun sejak adanya Perda Nomor 03/2012, retribusi itu diberlakukan lagi terhitung mulai 1 November 2012, retribusi tersebut diberlakukan di setiap PKB yang ada.
Terkait hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan PKB Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Lukman Iskandar, mengatakan, sejak diberlakukannya perda itu, kendaraan yang menjalani uji kir wajib membayar retribusi. Namun retribusi di DKI ini terkecil dibanding di daerah lain.
Disebutkan, untuk taksi retribusinya Rp 62 ribu, bus dan angkutan barang Rp 87 ribu serta bajaj 71 ribu. Angka ini naik dibandingkan dengan saat diberlakukannya Perda Nomor 1/2006 tentang Retribusi Daerah. Di backbone untuk taksi awalnya Rp 30 ribu, mobil barang Rp 40 ribu, kereta tempel/gandengan Rp 35 ribu. Sedangkan bajaj awalnya Rp 30 ribu.
"Sudah 13 tahun ini retribusi kir belum pernah naik. Setelah diberlakukannya Perda 03/2012 baru diberlakukan pada 1 November. Memang sebelumnya retribusi ujir kir ini dihapus saat ada affairs kompensasi BBM," ujar Lukman Iskandar.
Mengenai adanya biaya tinggi uji kir, kata Lukman, kemungkinan karena mereka membayarnya melalui biro jasa atau pengurus KWK. Namun jika mengikuti prosedur dan mengurusnya sendiri pasti biayanya sesuai Perda.
Akibat aksi mogok massal itu, Sofyan (35), seorang karyawan di sebuah pusat perbelanjaan di Kranji, Jawa Barat, terpaksa tidak dapat masuk kerja. Sebab angkot dari Pulogadung ke arah Kranji tidak ada yang beroperasi. Padahal ia telah 3 jam menunggu angkot.
"Sudah tiga jam menunggu tapi tidak ada angkot lewat. Mereka pada mogok di depan kantor kir PKB Ujungmenteng. Terpaksa saya tidak masuk kerja," ujarnya saat ditemui di halte Metropolitan Land, Cakung.
Begitu pun para penumpang yang menunggu angkutan di Terminal Lebakbulus, Jakarta Selatan, terkena imbas dari aksi mogok tersebut, hingga mereka terlantar di pinggir jalan. "Saya mau ke Menteng, mau naik Kopaja P20 tidak ada. Bingung dari sini mau naik apa ke sananya?" tanya Wiwik.
Sejak pukul 07.00, ratusan fleet angkutan umum dari bus kecil (angkot) dan bus sedang, di Jakarta Selatan juga menghentikan operasinya untuk sementara. Kepala Terminal Lebakbulus, Suarta Sebayang mengaku, ada 8 trayek angkutan yang ikut mogok hari ini di Jakarta Selatan. Namun, pihaknya hanya bisa menginformasikan kepada calon penumpang, dan menyarankan alternatif-alternatif angkutan agar penumpang sampai tujuan.
Kepala Seksi Penertiban Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, AB Nahor mengatakan, perkiraan angkutan umum yang ikut dalam aksi mogok hari ini mencapai 600 armada. "Di sini ada 9 trayek sekitar 700 armada, hanya satu trayek yang tidak mogok yaitu Koantas Bima. Berarti sekitar 600 fleet yang mogok," tukasnya.(cool)