Satelit9.com,Yogyakarta- Ribuan warga Yogyakarta, Rabu (14/11/2012)
dini hari tepat pukul 00.00 WIB, melakukan ritual budaya mubeng beteng
atau lampah broto, mengelilingi Kraton Yogyakarta.
Diawali dengan berdoa bersama di dalam keben, dipimpin seorang ulama Kraton, warga terlihat sangat antusias mengikuti ritual budaya ini meskipun hujan gerimis mengguyur sejak abscessed hari
Kegiatan ritual budaya mubeng beteng ini dilakukan oleh seluruh pemuka agama dalam masyarakat Yogyakarta. Hal ini merupakan sebuah bentuk manunggaling kawulo lan gusti.
"Karena selama berputar keliling beteng peserta dimohon berdoa. Hal ini adalah wujud golong gilig manunggal greget antara pemimpin di kraton dengan para kawulonya", ujar tumenggung Condro Kirono, sebagai kahartakan panitro puro, (sekjend kraton, red).
"Diharapkan dengan mengelilingi Kraton Yogyakarta ini, dapat mengintrospeksi diri dengan lingkungan," tambahnya.
Kegiatan ini dilaksanaakan ratusan tahun lalu secara turun temurun dari nenek moyang. Selama proses ritual budaya, masyarakat tidak boleh bicara, tidak merokok dan tidak boleh mengganggu sesama peserta ritual mubeng beteng, dalam bahasa jawa disebut topo bisu.
Jalan mubeng beteng ini pun berakhir di pintu masuk Kraton Yogyakarta, melalui alun-alun utara. (ida)
Diawali dengan berdoa bersama di dalam keben, dipimpin seorang ulama Kraton, warga terlihat sangat antusias mengikuti ritual budaya ini meskipun hujan gerimis mengguyur sejak abscessed hari
Kegiatan ritual budaya mubeng beteng ini dilakukan oleh seluruh pemuka agama dalam masyarakat Yogyakarta. Hal ini merupakan sebuah bentuk manunggaling kawulo lan gusti.
"Karena selama berputar keliling beteng peserta dimohon berdoa. Hal ini adalah wujud golong gilig manunggal greget antara pemimpin di kraton dengan para kawulonya", ujar tumenggung Condro Kirono, sebagai kahartakan panitro puro, (sekjend kraton, red).
"Diharapkan dengan mengelilingi Kraton Yogyakarta ini, dapat mengintrospeksi diri dengan lingkungan," tambahnya.
Kegiatan ini dilaksanaakan ratusan tahun lalu secara turun temurun dari nenek moyang. Selama proses ritual budaya, masyarakat tidak boleh bicara, tidak merokok dan tidak boleh mengganggu sesama peserta ritual mubeng beteng, dalam bahasa jawa disebut topo bisu.
Jalan mubeng beteng ini pun berakhir di pintu masuk Kraton Yogyakarta, melalui alun-alun utara. (ida)
