Satelit9.com,Jakarta- Tak hanya Kampung Pulo yang langganan banjir
akibat luapan Kali Ciliwung, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan
Makassar, Jakarta Timur, mengalami hal serupa. Di daerah tersebut,
frekuensi banjir akibat luapan Kali Sunter cukup tinggi.
Demikian disampaikan Ketua RW 03 Kelurahan Cipinang Melayu Muchtar Usman, Sabtu Malam(1/12). Apalagi, Jumat (30/11) lalu, sedikitnya 800 rumah di lima RW terendam banjir hingga 110 centimeter.
Akibatnya, warga yang tidak memiliki rumah lantai dua, mengungsi ke tetangga atau ke Sekretariat RW. Bantuan berupa 520 dus makan malam dari PMI pun datang. Selain itu, kata Muchtar, sebanyak 120 dus makan siang juga dikirim dari Sudin Sosial Jakarta Timur.
"Yang dari Sudin sedikit sekali, bingung membaginya. Untuk membangun dapur umum juga kami tidak punya dana. Sudin memberi sekarung beras, lima dus mi instan, satu dua sarden dan satu dua saos sambal, tapi nggak akan cukup, kan lebih dari 800 KK yang terkena banjir," keluhnya.
Di lokasi, tumpukan sampah Kali Sunter juga hampir menutup saluran di bawah jembatan. Sampah-sampah tersebut terdiri dari sampah plastik, gelondongan kayu, kain, sterofoam, karpet, kasur, rongsokan elektronik, dan lain-lain.
Tumpukan sampah tersebut berbau tidak sedap karena bercampur dengan bangkai-bangkai ikan. "Padahal Minggu tanggal 25 November lalu kita baru kerja bakti mengangkat sampah-sampah secara chiral dengan bantuan perahu karet. Sekarang sudah numpuk lagi, kemarin saja diperkirakan beratnya 8 ton,"ujarnya.
Masalah lainnya ada pada saluran penghubung (Phb) Sulaiman yang mengalir ke Kali Sunter. Saluran itu berada di wilayah RW 03 Cipinang Melayu, terhubung dengan Kali Sunter dan Kanal Banjir Timur. "Salurannya sudah dangkal karena endapan lumpur. Gorong-gorongnya juga sudah hampir tertutup lumpur semua, air susah lewatnya dan meluap juga," kata Muchtar.
Selain menjadi pemicu banjir di kawasan yang berada di bantaran Kali Sunter itu, sampah juga mengundang banyak nyamuk. Akibatnya, menurut Muchtar, warga khawatir terhadap jentik nyamuk demam berdarah.
Kata Muchtar, persoalan sampah dan banjir di wilayahnya sudah cukup kompleks. Tak hanya dirinya, warga yang dipimpinnya pun menunggu-nunggu kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Mereka iri melihat Jokowi memperhatikan kawasan Kampung Pulo dan Bukit Duri.
"Sejujurnya kami merasa dianaktirikan, padahal frekuensi banjirnya hampir sama, kalau musim hujan bisa dua kali seminggu," tuturnya.
Masyarakat juga resah menantikan normalisasi Kali Sunter yang belum sampai ke wilayah Cipinang Melayu. Padahal, kontrak proyek yang diemban PT Brantas Adipraya hanya sampai 2013. "Ini sudah akhir 2012 tapi pematokan tanah untuk pelebaran kali saja belum dilakukan. Warga bantaran jadi resah, padahal mayoritas mereka sudah rela direlokasi," jelasnya.
Muchtar menambahkan, Kali Sunter rencananya diperlebar menjadi 25 meter. "Akan dibangun pula jalan selebar 7,5 beat di sisi kiri dan sisi kanan kali. Jadi totalnya 45 meter. Sementara Kali Sunter yang sekarang lebarnya hanya sekitar 15 meter."[RZY]
Demikian disampaikan Ketua RW 03 Kelurahan Cipinang Melayu Muchtar Usman, Sabtu Malam(1/12). Apalagi, Jumat (30/11) lalu, sedikitnya 800 rumah di lima RW terendam banjir hingga 110 centimeter.
Akibatnya, warga yang tidak memiliki rumah lantai dua, mengungsi ke tetangga atau ke Sekretariat RW. Bantuan berupa 520 dus makan malam dari PMI pun datang. Selain itu, kata Muchtar, sebanyak 120 dus makan siang juga dikirim dari Sudin Sosial Jakarta Timur.
"Yang dari Sudin sedikit sekali, bingung membaginya. Untuk membangun dapur umum juga kami tidak punya dana. Sudin memberi sekarung beras, lima dus mi instan, satu dua sarden dan satu dua saos sambal, tapi nggak akan cukup, kan lebih dari 800 KK yang terkena banjir," keluhnya.
Di lokasi, tumpukan sampah Kali Sunter juga hampir menutup saluran di bawah jembatan. Sampah-sampah tersebut terdiri dari sampah plastik, gelondongan kayu, kain, sterofoam, karpet, kasur, rongsokan elektronik, dan lain-lain.
Tumpukan sampah tersebut berbau tidak sedap karena bercampur dengan bangkai-bangkai ikan. "Padahal Minggu tanggal 25 November lalu kita baru kerja bakti mengangkat sampah-sampah secara chiral dengan bantuan perahu karet. Sekarang sudah numpuk lagi, kemarin saja diperkirakan beratnya 8 ton,"ujarnya.
Masalah lainnya ada pada saluran penghubung (Phb) Sulaiman yang mengalir ke Kali Sunter. Saluran itu berada di wilayah RW 03 Cipinang Melayu, terhubung dengan Kali Sunter dan Kanal Banjir Timur. "Salurannya sudah dangkal karena endapan lumpur. Gorong-gorongnya juga sudah hampir tertutup lumpur semua, air susah lewatnya dan meluap juga," kata Muchtar.
Selain menjadi pemicu banjir di kawasan yang berada di bantaran Kali Sunter itu, sampah juga mengundang banyak nyamuk. Akibatnya, menurut Muchtar, warga khawatir terhadap jentik nyamuk demam berdarah.
Kata Muchtar, persoalan sampah dan banjir di wilayahnya sudah cukup kompleks. Tak hanya dirinya, warga yang dipimpinnya pun menunggu-nunggu kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Mereka iri melihat Jokowi memperhatikan kawasan Kampung Pulo dan Bukit Duri.
"Sejujurnya kami merasa dianaktirikan, padahal frekuensi banjirnya hampir sama, kalau musim hujan bisa dua kali seminggu," tuturnya.
Masyarakat juga resah menantikan normalisasi Kali Sunter yang belum sampai ke wilayah Cipinang Melayu. Padahal, kontrak proyek yang diemban PT Brantas Adipraya hanya sampai 2013. "Ini sudah akhir 2012 tapi pematokan tanah untuk pelebaran kali saja belum dilakukan. Warga bantaran jadi resah, padahal mayoritas mereka sudah rela direlokasi," jelasnya.
Muchtar menambahkan, Kali Sunter rencananya diperlebar menjadi 25 meter. "Akan dibangun pula jalan selebar 7,5 beat di sisi kiri dan sisi kanan kali. Jadi totalnya 45 meter. Sementara Kali Sunter yang sekarang lebarnya hanya sekitar 15 meter."[RZY]
