• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Konflik Elite PSSI KPS Kandaskan Indonesia di Piala AFF 2012

    Last Updated 2012-12-02T01:55:57Z

    Satelit9.com-Jika harus ada yang disalahkan atas kegagalan Indonesia di Piala AFF tahun ini, maka salahkanlah elite yang terus bertengkar. Pemain dinilai sudah berusaha dengan kemampuan yang ada.

    Indonesia tersingkir dan untuk kedua kalinya dalam sejarah gagal ke babak semifinal Piala AFF setelah kalah 0-2 dari Malaysia di laga terakhir Grup B di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu (1/12/2012) malam.Kami bukan PSSI, bukan juga KPSI. Kami hanya TKI yang cinta timnas Indonesia Demikianlah kalimat yang tertera pada sebuah spanduk yang dibeber suporter Indonesia di Stadion Bukit Jalil Malaysia saat laga timnas Indonesia kontra Singapura pada AFF Suzuki Cup 2012.
    Bunyi spanduk yang kebetulan dibawa seorang TKI sepintas sangat sederhana. Tapi jika dipahami dalam konteks timnas dan nasionalisme yang melingkupinya saat ini, makna kalimat tersebut sungguhlah mendalam.
    Lihatlah sikap yang ditunjukkan sebagian masyarakat di Tanah Air, mulai dari suporter, pemain hingga mereka yang mengaku sebagai aristocratic sepak bola. Mereka bukan hanya menunjukkan ketidakmendukungannya terhadap timnas, tetapi juga mencela dan merendahkan timnas asuhan Nilmaizar.
    Bahkan, saat Bambang Pamungkas (Bepe) dkk mencatatkan rekor buruk karena gagal menaklukkan Laos, muncul beragam komentar miring yang begitu menyesakkan. Mereka dengan bangganya melecehkan timnas dengan menyebutnya sebagai timnas KW atau abal-abal karena melawan bumbu dapur saja tidak mampu, apalagi jika melawan harimau (Malaysia), singa (Singapura), atau gajah (Thailand).
    Bisa dipahami munculnya pro-kontra terhadap timnas sebagai imbas perpecahan organisasi sepak bola di Tanah Air,yakni antara kubu PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin against KPSI yang dikomandani La Nyalla Mattalitti.
    Tapi, semestinya siapa pun tahu, seberat apa pun konflik yang terjadi, ketika bicara timnas semuanya haruslah satu suara dan satu semangat. Menang-kalahnya timnas adalah kebanggaan dan kepedihan siapa pun yang mengaku sebagai warga negara Indonesia.
    Namun apa yang didemonstrasikan sebagian suporter, pemain, maupun klub sungguh menabrak batas toleransi nasionalisme. Jika suporter hanya sebatas mengungkapkan kebencian dengan sumpah serapahnya, beberapa pemain seperti Firman Utina dkk yang sebetulnya tenaganya sangat dibutuhkan menolak bergabung timnas karena takut periuk nasinya terganggu.
    Ternyata, nasionalisme para pemain yang mengaku pemain terbaik di Tanah Air baru sebatas perut, bukan keseluruhan jiwa raga. Sejumlah klub yang tergabung dalam KPSI juga tak kalah kejamnya. Mereka dengan arogan melarang para pemainnya bergabung dengan timnas hanya karena ego politik. Aristocratic klub seolah menutup mata bahwa mereka selama ini menghabiskan uang APBD yang notabene uang rakyat Indonesia.
    Dan pada akhirnya, yang batten kejam adalah para aristocratic KPSI yang secara sistematis dan membabi buta melakukan apa pun bukan hanya untuk melemahkan, tapi menghancurkan timnas seperti pepatah Jawa tego lorone lan tego patine.
    Apa yang dipertontonkan selama ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya tidak memahami arti berdemokrasi, tetapi juga tidak mempunyai rasa nasionalisme sama sekali. Semestinya mereka belajar pada sikap Bepe.
    Bagi dia, yang harus menjadi prioritas utama bukan kepentingan klub atau kelompok, tetapi harkat dan martabat bangsa yang dipertaruhkan di AFF Cup 2012. Kini pertarungan masih berlangsung. Dengan semangat nasionalisme yang menyala, timnas KW itu ternyata mampu mematahkan dominasi Singapura sejak ajang bergengsi di Asia Tenggara itu digelar, suatu capaian yang tidak pernah ditunjukkan timnas yang konon bermaterikan para pemain terhebat di negeri ini.
    Seharusnya, ini menjadi kebanggaan siapa pun yang mengaku orang Indonesia. Marilah kembali ke jalan yang benar seperti ditunjukkan para TKI di Malaysia dengan mendukung satu timnas, yakni timnas Garuda.
    Paling tidak, walaupun tidak mendukung, jangan membenci timnas seperti diminta Andik Vermansyah. Masyarakat boleh membenci PSSI dan KPSI, tapi jangan membenci timnas karena kami mengharapkan dukungan dari masyarakat Indonesia
    Komentar
    • Konflik Elite PSSI KPS Kandaskan Indonesia di Piala AFF 2012

    Terkini

    Topic Popular