Satelit9.com,-Sepotong penggalan Orde Baru, sempat saya nikmati. Saat Dwi Fungsi ABRI belum ditiadakan. Tentara memang jumawa dan polisi inferior. Kini keadaan mulai berbalik. Polisi berkuasa atas pengamanan, TNI hanya membantu. Itupun jikalau diminta. Saya tidak hendak mengatakan bahwa Dwi Fungsi itu salah. Apalagi hendak mengatakan bahwa itu sumber konflik tentara-polisi. Masalahnya adalah arogansi institusi, bisa jadi kesejahteraan, bisapula iri hati, dan yang pasti ini masalah moalitas. Karena kekerasan sungguh tidak bermoral.tu pula yang terjadi pada Minggu (22/4) di Limboto, Gorontalo.
Perkelahian terjadi antara anggota TNI dari satuan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan anggota Polri dari satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Gorontalo.
Mulanya ada patroli Brimob yang dilempari batu oleh sekelompok orang tidak dikenal. Brimob lalu melakukan penyisiran dan menembak beberapa orang yang diduga terlibat.
Empat anggota TNI terkena tembakan. Adapun dari Brimob, dua anggota cedera di bagian kepala terkena lemparan batu.
Perkelahian prajurit TNI dan Polri bukan fakta baru dan sering dipicu persoalan sepele. Misalnya, perebutan lahan parkir, senggolan di jalan, karena polisi memeriksa surat izin mengemudi (SIM) yang pengendaranya anggota TNI, atau karena mabuk-mabukan.
Biasanya, setelah ada perkelahian, pimpinan TNI dan Polri meninjau lokasi kejadian. Itu juga yang terjadi di Gorontalo. Kemarin, Panglima Kostrad Letjen M Munir mengunjungi lokasi didampingi Kapolda Gorontalo Brigjen Irawan Dahlan. Setelah itu dilakukan pertemuan tertutup.idak semua polisi jahat karena beliaulah yang menangkap penjahat. Tidak semua tentara itu pengacau, karena merekalah yang mengamankan negara. Menjaga marwah kedaulatan. Saya tekadang terenyuh melihat pak polisi dipagi hari memandu anak sekolah menyebrang jalan. Berpanas dan berpeluh disiang hari mengatur lalu-lintas. Demikian halnya TNI, saya begitu salut saat melihat mereka menembus medan bencana dengan gagahnya. Mengevakuasi dengan nurani kemanusiaan, dan ikut kerja bakti bersama rakyat.Perkelahian hanya puncak gunung es yang menyimpan potensi konflik yang lebih besar. Di antaranya menyangkut permasalahan kesejahteraan prajurit, yang harus dicarikan solusi yang jitu oleh semua pemangku kepentingan.
Jangan membiarkan prajurit mencari penyelesaian sendiri dengan senjata. Prajurit yang berkelahi dan melepaskan tembakan serta komandan masing-masing harus ditindak tegas.
Tetapi menghukum tanpa memperhatikan akar masalah, yaitu kesejahteraan mereka, hanyalah memelihara api dalam sekam. Setiap saat bisa membara.
