• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Pemerintah kebingungan dalam Pembatasan BBM

    Last Updated 2012-04-23T20:41:01Z


    Satelit9.com,Jakarta-Rencana Pemerintah untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi untuk kendaraan di atas 1500 CC dikritisi PDIP dengan menekankan bahwa rencana itu mencerminkan kebingungan dalam memilih kebijakan terbaik.
    Dalam konferensi pers di ruang F-PDIP, di Jakarta, Senin (23/4), anggota  Komisi VII DPR Daryatmo Mardiyanto menjelaskan, rencana Pemerintah itu dilatarbelakangi asumsi bahwa penggunaan BBM bersubsidi akan meningkat menjadi 43 juta kiloliter.
     Angka itu meningkat sebesar 3 juta kiloliter dari asumsi di APBN Perubahan 2012 yang menyantumkan asumsi 40 juta kiloliter BBM bersubsidi.
    Perbedaan 3 juta kiloliter itu berarti menambah angka subsidi sebesar Rp10,5 triliun, dan pembatasan BBM bersubsidi untuk kendaraan 1500 CC ke atas dianggap sebagai solusi.
    Masalah pertama adalah soal kesiapan Pemerintah dan Pertamina untuk melaksanakan pembatasan itu.
    "Pertamina pernah menyampaikan di Komisi VII DPR bahwa mereka butuh waktu persiapan 3 bulan sebelum pelaksanaan. Hiswana Migas bahkan menyatakan 6 bulan persiapan. Belum lagi konsumen. Ini bisa jadi masalah besar," kata Daryatmo.
    Dolfie OFP, anggota Komisi XI DPR dari F-PDIP menambahkan, sebenarnya Pemerintah bisa saja tidak melaksanakan program pembatasan itu apabila mau merealokasi dana Rp30,5 triliun yang disiapkan untuk program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM)
    Seperti diketahui, BLSM hanya akan dilaksanakan bila harga BBM bersubsidi dinaikkan, dan belum akan terjadi hingga beberapa bulan mendatang.
    "Jadi bisa saja diambil Rp10,5 Triliun  dari uang BLSM Rp30,5 triliun itu untuk menutupi konsumsi kenaikan pemakaian BBM yang diasumsikan naik 3 juta kiloliter. Jadi dana BLSM itu bisa menutupinya," kata Dolfie.
    Dia menyatakan Pemerintah bersikap sangat aneh karena justru memilih untuk memaksa masyarakat golongan tertentu untuk menggunakan Pertamax dan tanpa pilihan alternatif.
    Padahal, lanjutnya, Pemerintah juga bisa melaksanakan solusi alternatif lainnya yakni mengkonversi penggunaan BBM ke bahan bakar Gas (BBG) yang harganya lebih murah.
    "Pemerintah hanya perlu membangun stasiun pengisian gas di SPBU-SPBU milik Pertamina," kata Dolfie.
    Di APBN sendiri disediakan dana sekitar Rp2 trilliun untuk program konversi BBM ke BBG itu.
    Apabila harga pembangunan satu stasiun pengisian gas per-SPBU adalah Rp 2  miliar, lanjutnya, maka dengan dana Rp 2 triliun itu sudah bisa  membangun stasiun gas di 100 SPBU milik Pertamina.
    "Dan kalau Pemerintah mau mengambil dana Rp 10,3 triliun dari BLSM untuk membangun lebih banyak lagi stasiun pengisian gas di SPBU Pertamina," tandas Dolfie.
    Menurut PDIP, opsi konversi BBM ke gas itu jauh lebih strategis karena secara konkret akan mengeluarkan Indonesia dari masalah ketergantungan pada BBM dan problem membengkaknya subsidi akibat menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar.
    "Dengan program pembatasan BBM bersubsidi, ada tendensi memaksa kelompok tertentu memakai Pertamax. Padahal kalau konversi ke gas dilaksanakan, sebenarnya Pemerintah bisa memberi masyarakat pilihan akan bahan bakar yang  digunakan," tutur Daryatmo Mardiyanto.(Wco/sbk)
    Komentar
    • Pemerintah kebingungan dalam Pembatasan BBM

    Terkini

    Topic Popular