![]() |
| Tol Ungaran |
"Mungkin bisa, penunjukan langsung (right to match), akan pembangunan ruas tol yang strategis," jelasnya, Kamis (16/2).
Menurut Sumaryanto, proyek pembangunan jalan tol, bila dilaksanakan investor, beralih fungsinya menjadi mencari keuntungan (profit). Hal itu bertolak belakang dengan tujuan awal untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam negeri.
Ia menerangkan PT Jasa Marga merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Namun, bukan berarti harus merugi dari sisi finansial. Masalah pendanaan bisa diselesaikan dengan berbagai perencanaan.
"Bila memang pemerintah tidak mampu memberikan dana subsidi, cari jalan lain," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta PT Jasa Marga untuk mencari sumber pembiayaan perusahaan tanpa menunggu dana subsidi dari pemerintah menyusul adanya penghematan anggaran di Kementerian Keuangan.
Dahlan mengusulkan salah satu sumber pendanaan tersebut berasal dari perusahaan dengan menggabungkan tarif tol Semarang-Solo dengan tarif tol Semarang seksi A, B, dan C. Intinya, Jasa Marga harus menemukan cara yang kreatif tanpa menunggu dana subsidi dari pemerintah Rp1,9 triliun.
Proyek pembangunan jalan tol Ungaran-Bawen merupakan seksi ke II dari ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 75,7 kilometer dengan nilai investasi sebesar Rp8 triliun.
Proyek jalan tol Semarang-Solo dibagi menjadi lima seksi, yaitu seksi I Semarang-Ungaran (16,3 km) yang sudah beroperasi sejak diresmikan pada November 2011, seksi II Ungaran-Bawen (13,33 km), seksi III Bawen-Salatiga (18,2) km, seksi IV Salatiga-Boyolali (22,4 km), dan seksi V Boyolali-Karanganyar (11,1 km)
