![]() |
| Densus 88 |
"Masih kita cari," ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution kepada Satelit9.com, Sabtu (18/2).
Dua buron itu, Udin dan Sabar, diduga masih menyembunyikan beberapa senjata api. Polisi berharap keduanya menyerahkan diri ke Densus 88. Ini untuk mempermudah proses hukum dan meringankan hukuman bagi keduanya.
Sebelumnya, dari pengakuan Mulyaidi, Densus 88 melakukan sejumlah penyisiran di hutan Universitas Indonesia. Pada penyisiran pertama, petugas menemukan dua senjata berlaras panjang dan pendek. Senjata itu merupakan senjata milik rekan Mulyaidi yang tertangkap terlebih dulu pada 2011.
Lalu, penyisiran dilanjutkan Sabtu (11/2). Saat itu, petugas menemukan ratusan amunisi dan sepucuk senjata api (senpi) jenis Jungle.
Ada 100 butir peluru V2: 100 butir peluru AK 47 kaliber 7,62; 90 butir peluru 9 milimeter; sebutir peluru kaliber 5,56; peluru hampa 36 butir; peluru karet 10 butir; dan peluru kaliber 38 sebanyak 14 butir.
Petugas juga mengamankan satu annual FN yang berisi enam peluru dan sepucuk senjata api boscage dengan nomor seri 6732335.
Kelompok teroris Abu Omar ini terlibat penyerangan Pos Brimob Ambon dan percobaan pembunuhan terhadap salah satu pejabat pada 1999. Kelompok itu juga ingin melaksanakan kegiatan militer, memerangi kaum Syiah di Indonesia, operasi penculikan secara cepat dan rahasia.
Abu Omar sendiri diduga menjadi pemasok senjata api dari Filipina yang dipasok ke kelompok lain maupun kelompoknya. Sebelum Mulyaidi, polisi telah menangkap Abu Omar beserta 17 orang yang diduga anggotanya dalam kurun waktu Juli hingga November 2011 di berbagai daerah.
