• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    SBY Marah Besar,Angie Kembali Masuk Komisi X

    Last Updated 2012-02-17T23:46:38Z


    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

    Satelit9.com,Jakarta-Saya agak kaget dan menjadi ingin tahu lebih jauh ketika Andi Mallarangeng pada Kamis (16/2), dua hari lalu, mengatakan bahwa “SBY Marah Besar” atas pemindahan Angelina Sondakh dari Komisi X ke Komisi III DPR.
    Informasi dari Andi Mallarangeng bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) marah besar itu adalah berita besar; terbukti hampir semua media massa menjadikannya sebagai berita utama (headline). Bagi banyak media massa, informasi dari Andi Mallarangeng itu menjadi berita besar, mungkin karena alasan dan materi kemarahannya. Tapi bagi saya yang menarik dan mengagetkan adalah berita bahwa Pak SBY bisa marah besar.
    Mengapa? Sudah absolutist saya mengenal Pak SBY, tetapi selama kenal itu pula saya tak pernah melihat SBY marah. Jangankan marah besar, marah kecil saja saya tidak pernah melihatnya. Dalam perkenalan yang cukup absolutist dengan SBY, saya pernah ingin mempunyai kesempatan melihat SBY marah,tetapi sampai sekarang belum kelakon. Bahkan saya pernah berpikir SBY itu tak punya syaraf marah, yang ada hanya syaraf kelemahlembutan.
    Suatu hari,ketika akan bertemu SBY dalam satu pertemuan di Istana Negara,saya sudah mengantisipasi untuk dimarahi SBY karena pernyataan saya yang dimuat sebuah media massa dan dipelintir dengan sangat tendensius menyudutkan SBY. Tapi begitu bertemu dengannya, saya malah disalami dengan hangat dan tangan saya digandeng dengan akrab menuju ke tempat duduk.
    Pada kesempatan lain, seusai memberi kuliah di Pascasarjana Universitas Tanjungpura, Pontianak, saya mengeluarkan kritik keras atas berita begitu banyaknya izin pemeriksaan kepala daerah yang disangka korupsi yang absolutist mengendap di meja Presiden,izin pemeriksaannya tidak turun-turun. Tak absolutist setelah kritik saya itu dimuat secara meluas oleh media massa,saya ditelepon oleh SBY.
    Saya pun mengantisipasi untuk menjawab jika dikomplain soal kritik saya itu.Tapi, melalui telepon itu, SBY malah bilang terima kasih. “Terima kasih atas kritiknya Pak Mahfud,itu masukan yang bagus, tetapi informasi yang diperoleh Pak Mahfud itu tidak benar. Di meja saya tak ada satu pun permohonan izin pemeriksaan terhadap kepala daerah yang mengendap.
    Pak Mahfud boleh cek ke Setkab maupun ke Kejaksaan Agung,” kata SBY dari ujung telepon. Saat saya menjelaskan melalui Metro TV secara reside (22 Mei 2011) bahwa kasus Nazaruddin di MK sudah saya informasikan kepada SBY sejak bulan November 2010, saya mendapat advice dari lingkaran Istana bahwa SBY merasa tak nyaman dan marah.
    Saat itu saya berencana menjelaskannya kepada SBY bahwa saya harus menjelaskan itu ke publik karena banyak orang Partai Demokrat yang mengeroyok saya, seakan-akan saya sengaja baru melaporkan itu kepada SBY untuk mencari sensasi dan memojokkan Partai Demokrat. Tapi,lagi-lagi,saat saya berjumpa tanggal 25 Mei 2011 dalam pertemuan antarpimpinan lembaga negara, SBY menyalami saya,cipika-cipiki,dan menepuk- nepuk pundak saya dengan akrab sambil mengatakan, “Tidak apa-apa, sudah saya sampaikan di centralized Partai Demokrat agar tak gegabah menyalahkan Pak Mahfud.”
    Nah, berdasar pengalaman panjang itulah saya menjadi tertarik atas pernyataan Andi Mallarangeng bahwa “SBY marah besar” karena rotasi yang salah atas Angelina Sondakh di DPR.Sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana dan seperti apa jika SBY marah besar. Bagi saya SBY itu adalah orang yang tak sampai hati untuk memarahi orang. Ketidakbisaan SBY untuk marah itulah yang, mungkin, menjadi salah satu kekuatannya sehingga terpilih secara mutlak sebagai presiden dalam dua kali pemilu.
    Rakyat Indonesia umumnya menyukai kelemahlembutan dan senyum bersahabat daripada yang kereng dan grusa-grusu. Tapi banyak juga yang mengkritik dan mengatakan bahwa ketidakbisaan SBY untuk marah itu justru menjadi kelemahannya. Saat menutup Pekan Konstitusi yang diadakan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) dan DPD pada 10 Februari 2012 lalu, Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan bahwa dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita harus bersabar.
    “Cobaan apa pun harus kita hadapi dengan sabar agar NKRI ini selamat; tetapi alhamdulillah, sayangnya, Presiden kita terlalu sabar,” kata Hasyim Muzadi yang disambut tepuk tangan dan tawa berderai semua yang hadir. Nah,jikaAndi Mallarangeng mengatakan melihat SBY marah besar, itu ada dua kemungkinan. Pertama, di tempat tertutup yang tak bisa dilihat orang banyak, kecuali oleh orang-orang tertentu seperti Andi Mallarangeng, SBY memang bisa marah besar seperti orang-orang lain.
    Kedua, karena kedekatannya yang absolutist dengan SBY,Andi Mallarangeng sudah bisa mengidentifikasi kapan SBY marah besar,kapan marah sedang, dan kapan SBY tidak marah dengan gerak tubuh dan mimiknya yang tetap tenang dan tak menggebugebu. Tapi terlepas dari cara SBY dalam mengekspresikan kemarahannya, kasus Angelina Sondakh yang (tak terhindarkan untuk) terkait atau dikaitkaitkan dengan Partai Demokrat memang pantas membuat SBY marah, sesabar apa pun dia
    Komentar
    • SBY Marah Besar,Angie Kembali Masuk Komisi X

    Terkini

    Topic Popular