• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Obama Belum Mau Tarik pasukan AS dari Afghanistan

    Last Updated 2012-03-13T15:04:46Z

    pasukan Taliban
    Satelit9.com,Afganistan-Di tengah-tengah ketakutan kemarahan bangsa Afghanistan atas pembantaian 16 warga sipil Afghanistan oleh seorang tentara AS, Presiden AS Barack Obama justru menolak usulan penarikan segera tentara AS dari Afghanistan. Obama menegaskan pasukan keamanan tidak akan “keluar secara terburu-buru” dari Afghanistan.   Obama menyatakan AS masih memiliki tanggung jawab melanjutkan rencana penarikan secara hati-hati.     “Hal itu semakin meyakinkan saya untuk memastikan tentara-tentara kami pulang, sudah waktunya. Tapi kami tidak ingin terburu-buru keluar,” kata Obama, Senin (12/3) WIB.     Obama mengisyaratkan rencananya untuk tetap dalam jalur di Afghanistan. AS dan Inggris akan melakukan pembahasan alih tugas tanggung jawab keamanan kepada pemerintah Afghanistan dan mengakhiri “peran tempur” pasukan NATO di Afghanistan, Rabu (14/3).        Sebelumnya, AS dan Inggris telah menyepakati rencana tentative penarikan tentara AS dan NATO di Afghanistan pada pertengahan tahun depan. Namun, militer Inggris dan AS akan tetap berada di Afghanistan untuk menjalankan peran melatih tentara Afghanistan hingga akhir 2014.     Kedua kepala negara akan membicarakan, apakah pasukan AS dan NATO telah membuat kemajuan dalam menstabilkan Afghanistan dan apakah sudah waktunya memutus hubungan lebih cepat dengan Afghanistan.     Pembantaian 16 warga Afghanistan oleh seorang tentara AS makin merusak hubungan  AS dan Afghanistan. Presiden Pakistan Hamid Karzai menyebut peristiwa itu sebagai   “pembunuhan sengaja terhadap warga sipil” dan “tak dapat dimaafkan”.   Karzai meminta penjelasan Washington atas kematian para korban termasuk sembilan anak-anak dan tiga wanita.      Parlemen Afghanistan meminta Presiden Karzai untuk menghentikan pembicaraan dokumen kemitraan strategis dengan AS, sampai jelas bahwa tentara pelaku penembakan menghadapi pengadilan di Afghanistan.     Pembantai itu datang di tengah-tengah merebaknya, gerakan anti Amerika di Afghanistan setelah insiden pembakaran al Quran oleh pasukan AS hingga menewaskan 30 orang dan enam tentara AS. Hal itu telah melepaskan gelombang kebencian terhadap asing dan dapat mengancam masa depan misi pasukan AS dan koalisi di Afghanistan.     NATO dan negara-negara anggota menyatakan bahwa insiden Minggu merupakan pukulan bagi upaya aliansi untuk menumbuhkan kepercayaan. Namun, hal itu tidak akan mempengaruhi operasi keamanan NATO di Afghanistan. Rakyat Afghanistan yang marah atas peristiwa itu menuntut pelaku diadili dalam sidang terbuka di Afghanistan. Menteri pertahanan AS Leon Panetta mengungkapkan pelaku pembantai dapat menghadapi ancaman hukuman mati, bila terbukti bersalah. Akan tetapi, kasus itu akan diselesaikan di pengadilan militer AS.      Dia juga menegaskan kasus pembantai itu tidak boleh menggagalkan misi militer di Afghanistan. Tekanan untuk melakukan itu dari pemimpin politik di Kabul dan Washington jangan sampai mengubah arah.   “Kita tampaknya mendapat ujian setiap hari menantang kepemimpinan dan komitmen kita terhadap misi dimana kita terlibat. Perang adalah neraka,” kata Panetta.         Dalam peristiwa pembantaian Minggu, seorang tentara berpangkat sersan itu menembak secara membabi buta tiga rumah menewaskan 16 warga sipil termasuk sembilan anak-anak dan tiga wanita.  Namun, warga desa menyatakan bahwa lebih dari satu orang pelaku penembakan. Mereka bersaksi sekelompok tentara AS sedang mabuk dan tertawa memasuki desa dan melepaskan tembakan ke semua arah.     Pasukan NATO telah menahan tentara itu dan menyatakan tengah melakukan investigasi bersama dengan aparat keamanan Afghanistan atas insiden itu
    Komentar
    • Obama Belum Mau Tarik pasukan AS dari Afghanistan

    Terkini

    Topic Popular