Satelit9.com,Jakarta-BP Migas meminta pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap minyak.“Cadangan minyak Indonesia tidak seperti dulu lagi. Saat ini cadangan minyak tinggal 10-12 tahun,” kata Kepala Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana di Jakarta,Kamis(3/5) beberapa saat yang lalu.
Menurut dia, saat ini ketergantungan terhadap minyak sangat tinggi, sehingga produksi yang ada sulit untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Apalagi tingkat pengurusan minyak Indonesia lebih besar dibanding negara-negara lain dengan sumber minyak yang besar.
Gde menyatakan, saat ini tidak ada penemuan cadangan-cadangan baru yang maksimal seperti Lapangan Minas dan Lapangan Duri. Kedua lapangan itu pernah menghasilkan produksi tertinggi, misalnya untuk lapangan Minas bisa tembus angka 1,6 juta barel.
Namun, saat ini produksi minyak dalam negeri terus di bawah satu juta barel. Apalagi minyak ini sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. “Kalau dia (minyak) habis ya habis, tidak bisa dikuras lagi,” ucap Gde.
Dia juga mengatakan, produksi minyak memang tidak mudah. Pasalnya, kegiatan eksplorasi itu tidak semuanya bisa berhasil atau dengan bahasa lainnya 10 kali ngebor bisa jadi cuma tiga sumur yang menghasilkan.
Selain itu, sumur yang baru maksimal hasilnya bisa diketahui setelah jangka waktu 20-30 tahun. Jadi, kalau saat ini ditemukan cadangan baru, maka hasilnya tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat.
Karena itu, Gde mengusulkan pemerintah untuk lebih memanfaatkan gas. Sebab, cadangan gas dalam negeri sangat tinggi dibanding minyak. “Cadangan gas masih aman sampai 40-60 tahun lagi. Tapi itu juga tergantung penemuan cadangan gasnya,” jelasnya.(col)