Satelit9.com,Rembang-Hari Suwandi mengoleskan krim untuk mencegah kram, sembari ditemani seorang pegawai SPBU Kiringan. Aksi jalan kaki korban semburan lumpur Lapindo, Hari Suwandi tiba di Rembang. Pendampingnya Harto Wiyono kehilangan dompet, sehingga mereka kehabisan bekal. Bagaimana kisahnya ? simak laporan berikut ini.
Setelah dari Tuban, Hari Suwandi (44 tahun) korban lumpur Lapindo asal desa Kedungbendo Kec. Tanggulangin Kab. Sidoharjo Jawa Timur yang akan berjalan kaki sampai Jakarta, akhirnya masuk Kab. Rembang, Sabtu malam (16 Juni 2012).
Hari menyusuri jalur pantai utara, di dadanya terdapat tulisan menuntut keadilan, sedangkan rekannya, Harto Wiyono setia mengawal dari belakang mengangkut perbekalan dengan mengendarai sepeda motor. Keduanya sempat beristirahat di sebuah masjid perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Naas, dompet milik Harto Wiyono berisi SIM, STNK kendaraan dan uang hasil penjualan kepingan CD bencana Lapindo sebesar Rp 600 ribu hilang. Ada dugaan pencopet beraksi ketika mereka masih terlelap tidur. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Sarang Rembang.
Harto Wiyono mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan makan, terpaksa harus mengandalkan belas kasih orang lain dan penjualan CD yang masih tersisa.
Meski demikian halangan tersebut tidak menyurutkan semangat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Minggu siang, Hari Suwandi dan Harto Wiyono sampai di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kiringan desa Punjulharjo, Kec. Rembang Kota.
Hari Suwandi mengatakan kalau sampai Jakarta, berencana ketemu presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ingin menyampaikan tuntutan pembayaran sisa ganti rugi Rp 920 miliar yang belum lunas terbayar. Pemerintah harus tegas turun tangan, karena PT Minarak Lapindo Jaya tidak bisa dipercaya lagi. Ia akan terus berada di Jakarta, sampai ada kepastian. Percuma pulang, karena rumah sudah hilang tenggelam lumpur panas.
Selama berada di SPBU Kiringan, warga sekitar berdatangan memberikan dorongan moral. Adib, warga desa Kasreman Rembang misalnya, sampai menangis. Menurutnya pemerintah bertindak dzalim, ditengah korupsi uang negara marak, nasib korban Lapindo yang terlantar, sungguh sangat ironis.
Begitu suasana lengang, Hari Suwandi, bapak tiga anak ini tidur beberapa jam, karena kelelahan. Bahkan kaki kirinya pincang, sejak jalan kaki dari Sidoharjo tanggal 14 Juni lalu. Pukul 16.00 baru meneruskan jalan kaki ke Pati – Kudus – Demak – Semarang.
(@kevin)