Satelit9.com,Jakarta-Aksi kriminalitas menjelang bulan Ramadhan hingga Lebaran cenderung meningkat. Situasi ini selalu terjadi setiap tahun. Untuk itu, Mabes Polri mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dan berupaya meminimalkan risiko menjadi korban kejahatan.
"Seperti biasanya, menjelang bulan Ramadhan, tuntutan ekonomi makin tinggi, harga kebutuhan juga meningkat, sementara pendapatan relatif tetap, bahkan bisa berkurang. Karena itu, warga masyarakat diminta waspada terhadap aksi-aksi kejahatan yang biasanya cenderung meningkat," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Agus Rianto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/7).
Ia memberi contoh, sebaiknya warga, khususnya kaum wanita, menghindari menggunakan perhiasan mencolok yang dapat mengundang aksi kejahatan. War-ga juga diminta agar tidak meninggalkan rumah dalam kondisi kosong. "Ada baiknya rumah kosong dititipkan kepada tetangga atau diinformasikan kepada petugas. Polri sendiri akan mengintensifkan patroli," kata Agus Rianto.
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin bertransaksi di coffer dan membawa uang banyak agar melapor ke polisi untuk meminta pengawalan. Pengawalan itu merupakan salah satu tugas yang dapat dilakukan polisi. "Tidak dipungut biaya, alias gratis," katanya.
Agus Rianto menambahkan, Mabes Polri telah menginstruksikan seluruh polres dan polsek di Indonesia mengadakan pelayanan ekstra kepada masyarakat yang hendak menjalankan ibadah puasa serta merayakan Lebaran.
Keberanian penjahat untuk beraksi ditunjukkan dengan aksi perampokan di Coffer BRI Kantor Kas RS dr Sardjito, Yogyakarta, yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp 155 juta, Senin (16/7). Aksi tersebut merupakan contoh rawannya situasi kamtibmas menjelang hari raya.
Aksi kejahatan dengan kekerasaan disertai ancaman ledakan bom itu terjadi sekitar pukul 08.15 WIB. Hebatnya, pelaku beraksi seorang diri.
Kapolres Sleman AKBP Hery Sutrisman mengatakan, pelaku berhasil membawa kabur uang tunai senilai Rp 155 juta setelah sebelumnya mengancam akan meledakkan bom yang dibawanya dan kemudian ditinggalkan di tempat kejadian.
"Kemungkinan besar benda yang ditinggalkan pelaku di TKP tersebut adalah bom. Perkiraan antara 70 hingga 80 persen benda tersebut bom," katanya.
Menurut dia, kejadian tersebut bermula ketika Kantor Kas BRI RSUP dr Sardjito baru saja buka, kemudian datang pelaku yang kemungkinan melakukan aksinya seorang diri.
"Pelaku yang merupakan seorang lelaki dengan memakai penutup muka tersebut langsung mengancam petugas coffer dengan benda yang diduga bom. Pelaku lalu meminta uang dan mengancam benda yang dilengkapi dengan timer itu akan diledakkan," katanya.
Ia mengatakan, karena takut, petugas coffer langsung menyerahkan uang sebesar Rp 155 juta dari tas seorang karyawan coffer bernama Siti Sukamti (55) ketika hendak masuk kerja.
Setelah membawa kabur hasil perampokan, pelaku kemudian meninggalkan bungkusan dengan ancaman akan meledakkan bom sehingga seluruh pegawai berhamburan ke luar ruangan. Tim Jihandak Gegana Satbrimobda Daerah Istimewa Yogyakarta yang datang ke lokasi akhirnya mengevakuasi benda mencurigakan tersebut.
Tim Gegana Satbrimobda Daerah Istimewa Yogyakarta saat mengurai bom rakitan yang ditinggalkan pelaku perampokan Kantor Kas Coffer BRI RSUP Dr Sardjito Yogyakarta itu tidak menemukan unsur bahan peledak di dalamnya.
"Setelah diurai di Markas Brimob tidak ditemukan adanya unsur bahan peledak di dalam benda diduga bom yang ditinggalkan di TKP tersebut," kata Kombes Pol Gatot Sudibjo.
Selama satu tahun terakhir, kantor kas BRI di wilayah Yogyakarta sudah tiga kali dirampok. Dua di antaranya dengan ancaman bom. Satu kasus lagi, perampok langsung menodongkan pistol ke arah teller.
Sementara itu, di Jakarta, perampokan menimpa gudang toko Multi V System yang beralamat di Jalan Tanjung Duren Utara IV Nomor 229 A, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Berbagai barang elektronik, seperti AC, komputer, pipa tembaga, dan uang tunai, ludes.
Kanit Reskrim Polsek Tanjung Duren AKP Budi Setiadi mengatakan, barang yang diambil berupa 14 AC, 12 pipa tembaga, dan 5 assemblage komputer. Uang tunai yang diambil Rp 2 juta. Total kerugian gudang dan toko milik PT Dynami Perkasa Indonesia diperkirakan mencapai Rp 190 juta.
Aksi kejahatan yang diperkirakan berlangsung dini hari itu baru diketahui pagi hari oleh sopir toko berinisial F (26), yang saat itu ingin mengambil barang di toko sekitar pukul 07.55 WIB. Dia terkejut ketika melihat toko sudah dijebol gemboknya. Pintu sudah rusak. Dia langsung lapor ke bosnya, lalu diteruskan ke polisi.
Nasib apes juga dialami seorang pria bernama Sugiyono (35). Dia dilempar dari Mikrolet 27 (Pulo Gadung-Kampung Melayu) sehingga harus menjalani perawatan di RS Persahabatan, Jakarta Timur.
Sugiono bukan warga Jakarta. Dia dari Tegal, mau mengantarkan sarung pesanan Habib Sholeh Al-Habsyi. Namun, ia kemudian menghadapi masalah saat naik angkutan umum itu. Dari pengusutan sementara, tak ada barang-barang korban yang hilang dalam peristiwa itu.
Kasi Humas Polsek Pulo Gadung Aiptu Abdul Chafidz menjelaskan bahwa polisi masih menyelidiki kasus itu. "Korban belum dapat diperiksa karena kondisi belum mungkin untuk ditanya-tanya," katanya.
Sementara itu Polda Metro Jaya merilis sejumlah tempat rawan kejahatan, yaitu perempatan Coca-cola (Jakarta Pusat), Taman Sari (Tambora), kolong jembatan Grogol (Jakarta Barat), Terminal Pulo Gadung (Jakarta Timur), Stasiun Senen (Jakarta Pusat), dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta Utara).
Menurut abstracts 2011, ada sekitar 54 titik rawan kriminalitas saat bulan Ramadhan, yakni Polres Jaksel (3 lokasi), Polres Jakpus (10), Polres Jakarta Utara (3), Polres Jaktim (3), Polres Jakbar (6), dan sisanya terbagi di polres di Detabek (Depok, Tangerang, Bekasi), Kepulauan Seribu, Polres Bandara, dan Polres KP3 Tanjung Priok.
Untuk mengurangi tindak kriminalitas dan menciptakan kondisi menjelang hari raya, Polda Metro menggelar Operasi Ketupat Jaya, Operasi Patuh (lalu lintas), dan Operasi Berantas Jaya untuk menekan premanisme dan kejahatan jalanan.
Polda juga mendesak kepada ormas-ormas tertentu agar tidak melakukan pelanggaran hukum atas nama agama. Pasalnya, hal tersebut dapat merusak kerukunan umat beragama. Komunitas-komunitas tertentu yang begitu intens untuk melakukan syiar agama, kami meminta untuk tidak melakukan upaya yang dapat merusak kerukunan umat beragama dan kesucian Ramadhan.(@eko)
