Satelit9.com,Jakarta-Keberadaan 118 kontainer atau 2.500 ton daging impor asal Australia mengakibatkan sejumlah pedagang daging di pasar tradisional resah. Daging yang masih berada di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara, itu diduga masuk secara ilegal dan akan dijual secara murah sehingga dikhawatirkan akan merusak iklim perdagangan di ibu kota.
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Mumammad Nurdin mengatakan, kehadiran 2.500 ton daging impor ini sungguh sangat meresahkan. Sebab dipastikan akan sangat merugikan pedagang di pasar-pasar tradisional. Karenanya, ia mendesak agar seluruh daging tersebut dikembalikan ke Australia, batten lambat satu minggu. Jika tidak dilakukan segera, ribuan pedagang daging akan menggelar aksi unjuk rasa dengan cara menduduki Kantor Kementerian Perdagangan dan Kantor Bea Cukai.
"Informasi daging ilegal masuk ke pelabuhan itu saya terima dari lima hari lalu. Saat ini daging masih disimpan di kontainer di pelabuhan. Sebelum diedarkan ke pasar, kami mendesak agar daging tersebut dikembalikan ke Australia. Karena kalau sampai beredar, akan merugikan kami sebagai pedagang kecil," ujar Nurdin, Rabu malam(29/8).
Nurdin menduga, kehadiran daging ilegal itu karena adanya pihak-pihak tertentu yang mencoba mencari keuntungan tanpa memperhatikan nasib pedagang kecil. Sebab tanpa ada permainan, tidak mungkin daging ilegal itu bisa tiba di Jakarta. Pihaknya juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pihak yang terlibat dalam pengiriman daging ilegal tersebut.
Ia khawatir, jika seluruh daging tak dikembalikan, juga akan memiliki efek domino Indonesia dianggap sebagai negara yang dengan mudah menerima barang ilegal dan murah.
Ia menyebut, harga daging di Jakarta yang berkisar Rp 80 ribu per kilogram, karena ada permainan pengusaha besar. “Sapi-sapi ditimbun, agar di pasaran langka. Sehingga harga dapat dimainkan,” katanya.
Ketua Asosiasi Pedagang Bakmi Bakso (Amiso), Bambang Hermanto, mengakui mahalnya harga daging sapi, membuatnya terpaksa mencampur daging sapi dan ayam dalam pembuatan bakso. Pola ini, diakuinya telah diikuti 3000 pedagang bakso yang tergabung dalam asosiasinya.
"Kami sekarang terpaksa mencampurkan daging sapi dengan daging ayam, untuk pembuatan bakso. Karena kalau murni daging sapi, jelas sangat mahal. Berapa harga bakso yang harus dijual ke masyarakat? Dengan dicampur daging ayam, harga dapat dikendalikan dan terjangkau," tandasnya.(@edi)
