Satelit9.com-PEMILIHAN Umum Kepala Daerah (Pemilu Kada) DKI Jakarta 2012 putaran kedua berlangsung hari ini. Seluruh warga DKI yang tercatat dalam daftar pemilih dijadwalkan datang ke tempat-tempat pemungutan suara untuk menjalankan tugas penting dan menentukan.
Penting karena partisipasi mereka sangat dibutuhkan dalam menegakkan demokrasi di DKI Jakarta. Menentukan karena suara merekalah yang akan menghasilkan siapakah kelak yang memimpin Ibu Kota lima tahun mendatang.
Ada dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan dipilih dalam pemilu kada hari ini. Mereka ialah pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dengan nomor urut 1 serta pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dengan nomor urut 3.
Dari jumlah calon, pemilu kada putaran kedua kali ini lebih sederhana jika dibandingkan dengan pemilu kada putaran pertama, 11 Juli lalu, yang menampilkan enam pasangan calon. Namun dalam tingkat persaingan, pemilu kada kali ini berlangsung lebih ketat. Ketatnya persaingan itulah yang kita khawatirkan akan memunculkan praktik tidak sehat dan tidak terpuji.
Beberapa hari terakhir, menjelang pemungutan suara, sejumlah tulisan berbau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) muncul di beberapa tempat strategis di Ibu Kota. Di sepanjang Jalan Puri Indah Raya, Kembangan Selatan, Jakarta Barat, misalnya, sempat muncul 29 tulisan berbau SARA di dinding pagar perumahan. Tidak jelas sejak kapan tulisan dengan cat semprot berbunyi antietnik tertentu dan antinama calon tertentu itu muncul. Praktik-praktik sejenis diduga juga berlangsung melalui pesan singkat yang beredar dari ponsel ke ponsel.
Kita sangat menyesalkan praktik-praktik tidak terpuji itu masih berlangsung di Ibu Kota, sebuah tempat yang menjadi tolok ukur kesehatan demokrasi di Tanah Air. Karena itu, kita kembali mengingatkan jangan sampai kompetisi memenangi suara warga DKI berubah menjadi ajang saling menghabisi. Kita juga tidak ingin pemilu kada di pusat pemerintahan Republik ini diwarnai praktik politik uang, pembunuhan karakter, dan sentimen basic yang merusak kesehatan demokrasi.
Jakarta sebagai etalase Indonesia adalah rumah bagi semua. Ia bukan hanya milik etnik dan agama tertentu. Jakarta dengan segenap persoalannya yang kompleks terlalu amateur bila hanya dikerdilkan dengan pendekatan primordial.
Menjadi tanggung jawab kedua pasangan yang bersaing untuk mengendalikan tim sukses dan para pendukung agar mereka menahan diri dari perilaku yang berpotensi mengganggu keutuhan dan keamanan Jakarta. Karena itu, kedua pasangan harus siap menang, sekaligus juga siap kalah. Yang menang tidak boleh jemawa, yang kalah harus legowo.
Bagi pasangan calon yang bersaing, memenangi pemilu kada adalah calendar yang penting. Namun, bagi kita semua, pemilu kada yang jujur, aman, dan damai jauh lebih penting.
