Satelit9.com,Yogyakarta-Pemerintah Indonesia dengan dukungan dari United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) sukses menyelenggarakan Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) ke-5 pada 22 - 25 Oktober 2012 di Yogyakarta. Hari ini Kamis (25/10) AMCDRR ke-5 resmi ditutup oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif. Penutupan AMCDRR ditandai dengan dirilisnya Deklarasi Yogyakarta dalam Pengurangan Risiko Bencana di Asia Pasifik 2012.
Ada tujuh butir utama yang dirangkum dalam Deklarasi Yogyakarta. Pertama mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim dalam affairs pembangunan nasional. Kedua, melakukan kajian terhadap risiko finansial di tingkat lokal.
Ketiga, menguatkan tata kelola risiko dan kemitraan di tingkat lokal. Keempat, membangun ketangguhan masyarakat. Kelima, mengidentifikasi hal-hal yang akan dicapai pasca-Hyogo Framework for Action (HFA) 2015. Keenam, mengurangi fator-faktor yang menjadi akar dari risiko bencana. Sedang kedelapan, mengimplementasikan isu-isu lintas sektoral dalam HFA.
Hal yang menjadi pertimbangan dalam deklarasi tersebut bahwa negara-negara di kawasan Asia Pasifik menyadari meningkatnya jumlah kejadian bencana dan perubahan iklim dalam dua tahun terakhir yang sangat signifikan.
Syamsul Maarif, Kepala BNPB Indonesia menyatakan, "Negara-negara peserta konferensi menyadari bahwa pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab kita semua”.
Di sisi lain, pihak-pihak yang bekerja untuk pengurangan risiko bencana membutuhkan dukungan semua pihak untuk menerapkan hasil dari konferensi ke-5 AMCDRR ini.
Deklarasi Yogyakarta yang telah disusun merupakan bagian dari rangkaian pencapaian bersama dari apa yang telah dihasilkan sebelumnya; seperti roadmap dan rencana aksi pengurangan risiko bencana. Pencapaian tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan praktek-praktek yang lebih nyata dan kontribusi menuju kerangka kerja PRB pasca 2015 dan calendar pembangunan.(dinda)
.jpg)