Satelit9.com,Jakarta-Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menyatakan, nilai mega proyek Mass Rapid Transit (MRT) saat ini terlalu mahal. Karenanya, pria yang akrab disapa Jokowi ini menginginkan agar proyek MRT ini untuk dipaparkan ulang. Nantinya, jika harga proyeknya dinilai sesuai pasaran, maka pembangunannya bisa dilanjutkan kembali. Namun, jika masih mahal, hendaknya proyek ini dikaji kembali.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama mengatakan, permintaan pemaparan ulang PT MRT menyusul adanya kajian dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengenai mahalnya nilai proyek MRT. "Makanya kita harus lihat apakah sudah sesuai? Prinsip pak gubernur sederhana, kalau bisa membuktikan itu tidak mahal ya jalan saja, bukan duit kita kok. Tapi itu harus dihitung," ujar Basuki, saat ditemui di ruang kerjanya di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (17/10).
Dikatakan Basuki, pihaknya masih akan mengkaji rute yang telah ditetapkan. Sebab, dengan rute yang ada sekarang yakni koridor selatan-utara dari Lebakbulus-Kampungbandan, harus mengorbankan keberadaan Stadion Lebakbulus. "Kenapa tidak dibalik, dari utara ke selatan jadinya Kampungbandan-Lebakbulus. Kan lahan di Kampungbandan lebih luas. Nah itu yang ada dikaji," kata Ahok, sapaan akrabnya.
Meski begitu, dikatakan Basuki, dirinya tetap setuju dengan pembangunan MRT di Jakarta. Terlebih, semua kota besar di dunia memang membutuhkan moda transportasi seperti ini. Pihaknya, saat ini juga tengah mengkaji dilanjutkannya proyek monorail yang sudah bertahun-tahun mangkrak.
"Kenapa monorail karena tidak perlu hutang, kalau MRT kita menghutang dan harus menanggungnya (pembayaran). Makanya, pak gubernur tidak mau hutang kan bukan duit kami itu duit rakyat. Kalau terbengkalai fasilitas umum jadi sasaran. Gubernur mau hal di kaji secara benar," katanya.
Pengamat transportasi UI, Alvinsyah mengatakan, jika Gubernur Joko Widodo akan melakukan penundaan pembangunan MRT, karena ingin melanjutkan monorail, maka harus dilihat dulu peluang pembatalan tersebut. Sebab, pembangunan MRT ini menggunakan pinjaman dari JICA. Di dalam pinjaman itu terdapat perjanjian (agreement) dengan sejumlah stakeholder. Bila ada peluang untuk menunda atau sampai membatalkan, tidak masalah dilakukan. Jika tidak, maka pembangunan ini harus tetap dilaksanakan,ucap Alvinsyah.
Pembangunan MRT, kata Alvinsyah, bisa menjawab solusi tranportasi massal di Jakarta. Karena moda transportasi yang ada di Jakarta saat ini belum bisa melayani masyarakat dengan baik. Bahkan perlu ada empat koridor MRT untuk bisa mengatasi kemacetan di Jakarta.
Dirinya kemudian membandingkan rancangan pembangunannya. MRT di tahun ketiga diprediksi bisa mengangkut sebanyak 412.000 penumpang per hari. Sementara untuk monorail setiap hari diperkirakan dapat mengangkut 39.400 penumpang.
Untuk melanjutkan proyek monorail, sambungnya, masalah yang harus dipertimbangkan Jokowi adalah masalah ganti rugi investasi kepada PT Jakarta Monorail yang hingga kini tidak kunjung selesai. PT Jakarta Monorail menuntut ganti rugi investasi kepada Pemprov DKI. Investasi itu salah satunya untuk pembangunan tiang pancang di Jl Asia Afrika Senayan, dan Jl HR Rasuna Said Kuningan.
Ganti rugi yang diharapkan oleh PT Jakarta Monorail yakni sebesar Rp 600 miliar. Namun setelah diaudit oleh BPKP ganti rugi yang harus dibayarkan hanya maksimal Rp 204 miliar.(deva)
.jpg)