Pasalnya, dari hasil rapat koordinasi persiapan pelantikan antara Pemerintah DIY dengan Pangdam IV Diponegoro di Kepatihan Yogyakarta, Ahad malam, 7 Oktober 2012, Gedung Agung yang dipakai sebagai lokasi pelantikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono akan dijaga ketat.
Pangdam IV Diponegoro, Mayor Jenderal TNI Hardiono Suroso seusai rapat koordinasi menyatakan, masyarakat yang ingin hadir langsung dalam proses pelantikan sebaiknya mengurungkan niat mereka. "Tidak perlu datang karena ada presiden, maka pengamanan harus steril dan undangannya sangat terbatas," kata Suroso.
Menurut dia, masyarakat bisa memanfaatkan media yang ditunjuk untuk meliput langsung jalannya prosesi pelantikan, yakni Televisi Republik Indonesia yang menyiarkan secara live. "Lebih baik pelantikannya disaksikan dari televisi di rumah masing-masing," ujar Suroso menambahkan. Mengenai undangan yang disebar, dia melanjutkan, jumlahnya tak lebih dari 500 orang.
Semula pemerintah daerah dan DPRD Yogyakarta mempersiapkan acara pelantikan di lokasi keraton. Mereka juga telah membenahi sejumlah fasilitas karena keraton dianggap sebagai opsi batten baik saat itu.
Namun rencana berubah saat dinyatakan Presiden SBY yang akan memimpin pelantikan. "Gedung Agung menjadi tempat yang tepat dari segi keamanan dan kenyamanan," ujar Suroso.
Sekretaris Daerah Yogyakarta, Ichsanuri enggan berkomentar soal berubahnya tempat pelantikan. Dia mengatakan untuk undangan dari Pemerintah DIY dijatah sebanyak 355 orang. "Semua yang menentukan pusat," kata dia. Menurut Ichsanuri, adanya perubahan acara dan jumlah undangan akan memangkas anggaran pelantikan yang semula dianggarkan sebesar Rp 1,6 miliar.(Ida)