Satelit9.com,Jember-Informasi bahwa salah satu terduga teroris, Agus
Anton Figian, adalah alum Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Jember,
sempat membuat terkejut kalangan aktivis organisasi mahasiswa ekstra
kampus terbesar di Indonesia itu.
Ketua Umum HMI Cabang Jember Jamal Baktir mengaku ponselnya dihujani telpon dari sejumlah alum maupun pengurus HMI di tingkat pusat dan provinsi. "Saya diminta menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya," katanya, Sabtu (27/10/2012) malam.
Agus dibekuk Detasemen Khusus 88 di Madiun, Jumat malam kemarin. Alum Fakultas MIPA Unej diduga bertugas sebagai perakit bom. Belum ada keterangan resmi mengenai peran Agus ini.
Jamal mengaku sudah mengecek abstracts anggota HMI Jember. Agus memang pernah mengikuti Latihan Kader I tahun 1998. "Tapi pertengahan 1999, ia sudah keluar dari HMI, dan lebih banyak aktif di organisasi seperti NII (Negara Islam Indonesia)," katanya.
Hal ini dipertegas Amin, salah satu mantan aktivis HMI MIPA. "Dia pindah ke NII, Mas," katanya.
Menurut keterangan salah satu kawan Agus yang tidak mau disebut namanya, pria kelahiran 15 Januari 1980 pindah ke sebuah organisasi yang mirip dengan gerakan NII, yakni Negara Karunia Allah (NKA). Disebut mirip, karena tujuan dan modus operandi organisasi ini bisa dibilang sama dengan NII, yakni mendirikan negara Islam di Indonesia. Untuk masuk organisasi ini, ada semacam iuran atau dana perjuangan sebesar Rp 500 ribu.
Sejak bergabung dengan gerakan NKA atau gerakan serupa NII ini, Agus berubah lebih ofensif dalam 'berdakwah'. Ia pernah mengajak salah satu kawannya di HMI untuk ikut bergabung dengan NKA. Namun sang kawan menolak keras ajakan itu. Perdebatan keras terjadi di antara keduanya, bahkan dengan menggunakan dalil agama.
Agus memandang Islam tak bisa dijadikan satu dengan Pancasila. Artinya, seorang muslim seharusnya berideologikan Islam secara menyeluruh (kaffah). "Dia berpendapat Islam ya Islam, tidak usah Pancasila. Namanya pohon nangka, maka akar dan batangnya adalah nangka, bukan jenis lainnya," kata salah satu kawan Agus menirukan perdebatan tersebut.
Namun Agus tidak berhasil menggoyahkan sang kawan untuk ikut dalam kelompok NKA itu. Bagi sang kawan, Keislaman dan Keindonesiaan dalam HMI sudah tuntas dan tak perlu dipersoalkan. Ia tidak berminat bergabung dengan organisasi yang bermaksud mendirikan negara Islam.(wco)