Satelit9.com, Baghdad- Irak membatalkan pembelian senjata senilai 4,2 milar dolar AS dari Rusia pada Sabtu (10/11). Aksi itu dilakukan karena khawatir perjanjian tersebut berbau korupsi.
"Perjanjian itu dibatalkan," kata juru bicara Perdana Menteri Nuri al-Maliki, Ali Mussawi.
Perdana Menteri Nuri al-Maliki sempat memimpin delegasi ke Rusia pada bulan lalu. "Ketika Maliki pulang dari kunjungannya ke Rusia, ia menaruh kecurigaan adanya korupsi, jadi ia memutuskan akan meninjau kembali perjanjian itu... Ada satu penyelidikan yang sedang berlangsung mengenai hal ini," ujar Mussawi.
Mussawi menolak mengatakan siapa yang telah diperiksa atau apakah Irak akan memulai perundingan-perundingan baru dengan Moskow. Ia juga tidak mengatakan secara tegas kapan keputusan akhir dibuat untuk membatalkan perjanjian itu.
Kedutaan besar Rusia di Baghdad tidak dapat dihubungi untuk diminta komentar. Jika perjanjian rampung dan dilaksanakan, maka Rusia merupakan pemasok senjata terbesar kedua Baghdad, setelah Amerika Serikat. Media Rusia memberitakan perjanjian itu mencakup 30 helikopter tempur Mi-28 dan 42 sistem rudal darat ke udara Pantsir-51.
Diskusi-diskusi juga kabarnya sedang dilakukan bagi kemungkinan Irak memperoleh satu skuadron pesawat tempur MiG-29 dan helikopter-helikopter, serta senjata berat. Pernyataan itu mengatakan perjanjian-perjanjian itu menyebutkan mereka secara rahasia berunding awal April lalu. Ada kunjungan kembali Juli dan Agustus yang dilakukan delegasi-delegasi Irak termasuk Menteri Pertahanan Saadun al-Dulaimi.(ant/BEY)
.jpg)