Satelit9.com,Jakarta-Keluarnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dari
ruang rapat pembahasan proyek Mass Rapid Transit (MRT) ternyata tidak
sekedar salat Ashar belaka. Jokowi ternyata geram dengan jalannya rapat.
"Tadi sudah dengar semuanya. Sudah jelas belum tadi? Iya belum jelas, ngapain suruh saya memutuskan, tukas Jokowi kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (28/11/2012).Terlebih suasana sempat menegang, karena salah satu pengusaha di kawasan Fatmawati yang juga dilibatkan dalam rapat, terbawa emosi saat Deputi Bidang Transportasi DKI Jakarta, Soetanto Soehodo melakukan paparan.
Sebagian pihak yang hadir dalam appointment tersebut menilai, sosialisasi mengenai pembangunan MRT selama ini tidak maksimal. Bahkan kajian yang telah dilakukan selama 30 tahun, dianggap tidak pernah diperlihatkan kepada publik.
"Iya belum jelas, acknowledgment of invesment saat ini masih dalam kajian. Inginnya saya memutuskan cepat, tapi kalau kalkulasi yang ada belum mateng, ya nanti dulu diputuskannya," kata Jokowi, di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (28/11)
Meski demikian, ia memastikan setuju dengan pembangunan MRT di Jakarta. Namun dirinya masih akan mempertajam kajian MRT yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di ibukota. "Mesti harus dijelaskan secara transparan dan terbuka kepada masyarakat, disosialisasi sehingga jelas dan bisa diterima. Kalau tidak, perlu diulang lagi sosialisasinya," ujarnya.
Jokowi menilai, bunga atas pinjaman yang diberikan oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sangat murah yakni hanya 0,2 persen. Dirinya juga tidak mempermasalahkan atas bunga dan pengembalian dari pinjaman tersebut. "Yang masalah accommodation (perjanjian)-nya. Tapi, ternyata tadi dijelaskan bahwa yang memakai barang dari sana (Jepang) hanya 30 persen. Apakah benar nanti hanya 30 persen, ini dipertajam terus nanti," jelasnya.
Deputi Bidang Koordinator Infrastruktur Pengembangan Wilayah Menteri Koordinator Perekonomian, Lucky Eko Wuryanto mengatakan, keputusan kelanjutan MRT harus segera diambil. Meski demikian, harus diperhatikan juga dampak dari pembangunannya agar tidak mengganggu warga yang berada di sekitarnya.
Pihaknya juga berjanji akan lebih transparan terkait dengan pembangunan MRT. Bahkan hasil studi MRT akan disosialisasikan kepada masyarakat. "Nanti kita mau allotment hasil studi dan hasil kajian teknis yang sudah bisa dijadikan dasar terhadap keputusan MRT. Harapannya setelah di-share ke publik kita diskusi lagi," tandasnya.
Menurut Jokowi, pemaparan MRT yang berlangsung di ruangan rapat belum matang. Sehingga tidak ada gunanya untuk diputuskan secepatnya. Ketidakmatangan itu ada pada kalkulasi yang belum selesai.
Jokowi menjelaskan, Acknowledgment of Investment (ROI)-nya masih dalam kajian. Kalkulasinya belum matang, bagaimana bisa diambil keputusan.
Saya disuruh memutuskan di saat ROI belum jelas, kalkulasi belum matang. Nanti dulu, tegas Jokowi.
Selain permasalahan ROI, hal-hal yang ada terkait mega proyek itu juga harus dijelaskan secara transparan kepada masyarakat.
Seharusnya pembahasan ini bisa menghasilkan sesuatu, yang bisa disampaikan secara transparan kepada masyarakat Jakarta. Jika belum jelas, untuk apa disosialisasikan kepada masyarakat, katanya kesal. (erna )
"Tadi sudah dengar semuanya. Sudah jelas belum tadi? Iya belum jelas, ngapain suruh saya memutuskan, tukas Jokowi kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (28/11/2012).Terlebih suasana sempat menegang, karena salah satu pengusaha di kawasan Fatmawati yang juga dilibatkan dalam rapat, terbawa emosi saat Deputi Bidang Transportasi DKI Jakarta, Soetanto Soehodo melakukan paparan.
Sebagian pihak yang hadir dalam appointment tersebut menilai, sosialisasi mengenai pembangunan MRT selama ini tidak maksimal. Bahkan kajian yang telah dilakukan selama 30 tahun, dianggap tidak pernah diperlihatkan kepada publik.
"Iya belum jelas, acknowledgment of invesment saat ini masih dalam kajian. Inginnya saya memutuskan cepat, tapi kalau kalkulasi yang ada belum mateng, ya nanti dulu diputuskannya," kata Jokowi, di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (28/11)
Meski demikian, ia memastikan setuju dengan pembangunan MRT di Jakarta. Namun dirinya masih akan mempertajam kajian MRT yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di ibukota. "Mesti harus dijelaskan secara transparan dan terbuka kepada masyarakat, disosialisasi sehingga jelas dan bisa diterima. Kalau tidak, perlu diulang lagi sosialisasinya," ujarnya.
Jokowi menilai, bunga atas pinjaman yang diberikan oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sangat murah yakni hanya 0,2 persen. Dirinya juga tidak mempermasalahkan atas bunga dan pengembalian dari pinjaman tersebut. "Yang masalah accommodation (perjanjian)-nya. Tapi, ternyata tadi dijelaskan bahwa yang memakai barang dari sana (Jepang) hanya 30 persen. Apakah benar nanti hanya 30 persen, ini dipertajam terus nanti," jelasnya.
Deputi Bidang Koordinator Infrastruktur Pengembangan Wilayah Menteri Koordinator Perekonomian, Lucky Eko Wuryanto mengatakan, keputusan kelanjutan MRT harus segera diambil. Meski demikian, harus diperhatikan juga dampak dari pembangunannya agar tidak mengganggu warga yang berada di sekitarnya.
Pihaknya juga berjanji akan lebih transparan terkait dengan pembangunan MRT. Bahkan hasil studi MRT akan disosialisasikan kepada masyarakat. "Nanti kita mau allotment hasil studi dan hasil kajian teknis yang sudah bisa dijadikan dasar terhadap keputusan MRT. Harapannya setelah di-share ke publik kita diskusi lagi," tandasnya.
Menurut Jokowi, pemaparan MRT yang berlangsung di ruangan rapat belum matang. Sehingga tidak ada gunanya untuk diputuskan secepatnya. Ketidakmatangan itu ada pada kalkulasi yang belum selesai.
Jokowi menjelaskan, Acknowledgment of Investment (ROI)-nya masih dalam kajian. Kalkulasinya belum matang, bagaimana bisa diambil keputusan.
Saya disuruh memutuskan di saat ROI belum jelas, kalkulasi belum matang. Nanti dulu, tegas Jokowi.
Selain permasalahan ROI, hal-hal yang ada terkait mega proyek itu juga harus dijelaskan secara transparan kepada masyarakat.
Seharusnya pembahasan ini bisa menghasilkan sesuatu, yang bisa disampaikan secara transparan kepada masyarakat Jakarta. Jika belum jelas, untuk apa disosialisasikan kepada masyarakat, katanya kesal. (erna )
