Satelit9.com,Gresik-Memasuki hari keenam semburan gas bercampur
lumpur di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng Gresik masih terus mengalir.
Belum adanya penanganan secara signifikan membuat Pemkab Gresik hanya sebatas membangun tanggul pembatas.
Kendati belum ada penanganan secara teknis. Namun, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung menilai semburan tidak berbahaya.
Menurut Ketua Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Akhmad Zaennudin mengatakan, kedatangannya ke Gresik hanya mengambil sampling terkait dengan kadar kandungan gas. "Kami mengambil sampling untuk mengetahui kadar kandungan semburan. Kami ingin mengetahui komposisinya. Apakah ada gasnya atau hanya minyak," ujarnya, Minggu malam(18/11/2012).
Sebelumnya, tim Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) yang dipimpin Field Admin Superintendent JOB-PPEJ, A Basith Syarwani juga melakukan pengambilan sample gas di salah satu sumur tua yang lokasinya 10 beat dari semburan lumpur gas. Pengambilan sample dilanjutkan di semburan lumpur gas yang terus-menerus menyemburkan lumpur bercampur gas.
"Berdasar abstracts saat ini, terdapat 35 titik sumur tua di Metatu Gresik, maka kami menduga memang ada kandungan minyak. Kendati ada faktor alamiah karena tidak diambilnya lantung (minyak yang diambil secara tradisional) di sumur-sumur yang masih aktif.
“Tapi kami pastikan secara fisik semburannya sama dengan Lapindo di Porong. Tetapi kandungannya gasnya berbeda," ungkapnya.
Selain itu, mendasarkan pada hasil penelitian sementara bahwa semburan lumpur gas di Metatu tidak berbahaya. Karena tidak ada gas H2S.
Saat ini, pusat semburan lumpur gas Metatu hanya mengeluarkan gas metan atau CO2. Bukan sebaliknya gas metan yang dikeluarkan LEL (Low Explosive Limit) jauh di atas ambang batas. (rofik)
Belum adanya penanganan secara signifikan membuat Pemkab Gresik hanya sebatas membangun tanggul pembatas.
Kendati belum ada penanganan secara teknis. Namun, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung menilai semburan tidak berbahaya.
Menurut Ketua Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Akhmad Zaennudin mengatakan, kedatangannya ke Gresik hanya mengambil sampling terkait dengan kadar kandungan gas. "Kami mengambil sampling untuk mengetahui kadar kandungan semburan. Kami ingin mengetahui komposisinya. Apakah ada gasnya atau hanya minyak," ujarnya, Minggu malam(18/11/2012).
Sebelumnya, tim Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) yang dipimpin Field Admin Superintendent JOB-PPEJ, A Basith Syarwani juga melakukan pengambilan sample gas di salah satu sumur tua yang lokasinya 10 beat dari semburan lumpur gas. Pengambilan sample dilanjutkan di semburan lumpur gas yang terus-menerus menyemburkan lumpur bercampur gas.
"Berdasar abstracts saat ini, terdapat 35 titik sumur tua di Metatu Gresik, maka kami menduga memang ada kandungan minyak. Kendati ada faktor alamiah karena tidak diambilnya lantung (minyak yang diambil secara tradisional) di sumur-sumur yang masih aktif.
“Tapi kami pastikan secara fisik semburannya sama dengan Lapindo di Porong. Tetapi kandungannya gasnya berbeda," ungkapnya.
Selain itu, mendasarkan pada hasil penelitian sementara bahwa semburan lumpur gas di Metatu tidak berbahaya. Karena tidak ada gas H2S.
Saat ini, pusat semburan lumpur gas Metatu hanya mengeluarkan gas metan atau CO2. Bukan sebaliknya gas metan yang dikeluarkan LEL (Low Explosive Limit) jauh di atas ambang batas. (rofik)
