Satelit9.com,Jakarta-Sama seperti kota-kota besar lainnya di dunia, masalah sampah juga menjadi persoalan tersendiri bagi Kota Jakarta. Saat ini, dengan 6.500 ton sampah per hari yang dihasilkan warga Jakarta tentu akan menjadi persoalan serius jika tidak ditangani dengan baik dan benar.Untuk itu, sebagai bentuk komitmen dalam penanganan sampah di ibu kota, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan pengolahan sampah berteknologi avant-garde dengan membangun tiga Intermediate Treatment Facility (ITF) ramah lingkungan di Sunter, Cakung Cilincing, dan Marunda. Rencananya, ketiga ITF tersebut akan dibangun mulai Agustus mendatang secara bertahap.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, saat ini proses pemusnahan sampah di Jakarta akan memasuki fase baru dari menggunakan teknologi yang belum terlalu avant-garde seperti di TPST Bantargebang menjadi lebih avant-garde seperti yang akan diterapkan pada ITF.
"Di Bantargebang sudah dikonversi menjadi teknologi avant-garde karena gas metannya sudah menghasilkan tenaga listrik sebesar 10,5 MW sehingga bisa dinikmati oleh lingkungan di sana," ujar Fauzi usai meninjau ITF Sunter, Tanjungpriok, Jumat (6/7).
Dikatakan Fauzi, untuk melengkapi kapasitas TPST Bantargebang yang tidak lagi memadai dan teknologinya yang belum terlalu modern, Pemprov DKI Jakarta akhirnya membangun tiga ITF. ITF Sunter dibangun sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta. Sedangkan ITF Cakung Cilincing dibangun oleh swasta dan ITF Marunda yang dibangun melalui accessible clandestine partnership. "Targetnya kita akan menjadikan kapasitas itu naik menjadi 26 MW. Kemudian ini bisa disuplai PLN, sehingga tidak ada lagi kesan sampah itu tidak punya nilai komersil, dan itu sudah kita tinggalkan," katanya.
Diungkapkan Fauzi, teknologi pengolahan sampah yang digunakan ini merupakan teknologi batten muktahir di dunia dengan menggunakan 3 komponen, seperti incineration atau pembakaran, kemudian ability bulb yang membuat sampah menjadi energi listrik serta teknologi ambiance ascendancy accessories yang ramah lingkungan. "Kami tidak bisa membangun pembakaran sampah sembarangan, karena sampah bila dibakar akan mengeluarkan gas beracun, dan itu tidak bisa dibiarkan karena mencemari lingkungan, sehingga dibangunlah ITF ini," ucapnya.
Fauzi berpesan, bila setiap RW atau kelurahan bisa mengolah dan mengurangi sampah sebanyak 15 persen, maka itu sudah mempunyai nilai efisiensi yang luar biasa untuk proses akhir sampah di Jakarta. "Jadi alley map ke arah itu sudah kita buat. Dititik awal akan ada pengurangan aggregate sampah dan dititik akhir kita siapkan fasilitas seperti ini. Untuk sementara tiga ITF yang dibutuhkan. Dan bila diperlukan lagi, akan kita tambah," tandasnya.(@jaya)