• Jelajahi

    Copyright © Informasi Tanpa Batas
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Top Ads

    Iklan 300x250

    728x90 AdSpace

    Jatim Masih Defisit Kedelai,12,9 kg per kapita per tahun

    Last Updated 2012-07-25T08:55:45Z


    Satelit9.com,Surabaya - Jawa Timur yang mengklaim dirinya sebagai provinsi hortikultura ternyata tidak menjamin ketersediaan pasokan buah dan sayur. Terbukti, hingga saat ini pasokan kedelai masih kurang dari cukup.
    Hingga saat ini, kebutuhan kedelai masing-masing orang di Jatim mencapai 12,9 kg per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk lebih dari 37 jiwa, diperkirakan kebutuhan kedelai di Jatim dalam satu tahun mencapai 460.000-491.000 ton per tahun.
    "Padahal hingga 2011 produksi kedelai di Jatim baru 366.990 ton per tahun," ujar Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur, Achmad Nurfalakhi ketika ditemui di Surabaya, Rabu (25/07). Sedangkan di tahun 2012 produksi diperkirakan naik menjadi 450.000 ton per tahun.
    Kenaikan tersebut diantaranya disebabkan adanya perluasan areal tanam. Jika hingga Juni 2012 luas tanam mencapai 142.222 hektar, hingga akhir 2012 ditargetkan absolute luas tanam bisa mencapai 300.000 hektar.
    Rendahnya tingkat produksi tersebut menurutnya akibat harga jual kedelai lokal selalu disamakan dengan kedelai impor. Padahal biaya produksi dan tingkat produktivitasnya lebih rendah dibandingkan kedelai impor. Di luar negeri, produktivitas tanaman kedelai bisa mencapai 2,5 ton per hektar, sementara di dalam negeri, produktivitasnya hanya dikisaran 1,5 ton per hektar.
    "Akibatnya, petani jadi kurang tertarik menanam kedelai," ujarnya. Belum lagi produsen tempe dan tahu yang juga lebih memilih kedelai impor dibandingkan kedelai lokal.
    Kedelai impor lebih disuka karena ukurannya sama besar. "Jadi misalnya untuk membuat tempe dengan ukuran tertentu, bahan bakunya lebih banyak jika menggunakan kedelai lokal. Sehingga biaya bahan baku juga lebih besar," kata Falakhi lagi.
    Selain itu, karena kedelai impor disimpan dalam waktu yang relatif lebih lama, akhirnya kedelainya menjadi lebih empuk. Sehingga proses pemasakan menjadi lebih cepat dan tentu saja konsumsi bahan bakar lebih sedikit dibandingkan mengolah kedelai lokal yang lebih keras.
    Padahal, kualitas kedelai lokal justru lebih baik karena bukan kedelai transgenik.
    Lebih lanjut Ia mengatakan, dengan naiknya harga kedelai- dari Rp5.500 per kg menjadi Rp8.000 per kg diharapkan bisa memancing petani untuk mau menanam kedelai.
    "Petani kita kan masih latah. Kalau harganya tinggi, berbondong-bondong menanam itu sehingga diharapkan harganya bisa kembali stabil," pungkasnya. (@eko)

    Komentar
    • Jatim Masih Defisit Kedelai,12,9 kg per kapita per tahun

    Terkini

    Topic Popular