Satelit9.com-Setiap hari sepertinya selalu muncul persoalan baru di negeri ini. Sedihnya persoalan itu berkaitan dengan kehidupan masyarakat banyak. Kasus terakhir yang menyulitkan mereka adalah meningkat tajamnya harga kedelai.
Kita sama-sama tahu bahwa makanan utama dari bangsa ini adalah tahu dan tempe. Bahkan ilmuwan Jepang mengakui khasiat dari tempe dan menerima bahwa itu adalah makanan khas Indonesia.
Bahan utama dari pembuatan tahu dan tempe adalah kedelai. Ketika harga kedelai melambung begitu tinggi, otomatis produksi mereka ikut terganggu. Bahkan di beberapa tempat perajin tempe dan tahu terpaksa menghentikan produksi mereka.Mulai hari ini, Rabu (25/7/2012), hingga dua hari ke depan, tempe dan tahu akan menjadi makanan langka di Jabodetabek, Banten, dan Bandung. Sejumlah perajin tempe dan tahu akan menghentikan produksinya agar konsumen tahu bahwa makanan rakyat itu saat ini adalah makanan yang mahal.
Kelangkaan tempe dan tahu itu merupakan dampak dari melonjaknya harga kedelai impor di Indonesia, setelah harga komoditas kedelai pada atrium berjangka Chicago Board of Trade (CBOT) Amerika Serikat (AS) menguat, yang mencapai posisi tertingginya selama 6 bulan terakhir.
Sebagain besar impor kedelai Indonesia memang berasal dari negeri Paman Sam. Karena cuaca kering berkepanjangan yang mengganggu produksi kedelai dan mengkhawatirkan berkurangnya pasokan kedelai ke pasar, harga di AS pun melambung.
Sontak, para perajin tempe dan tahu kelimpungan. Mahalnya bahan baku utama tempe dan tahu itu membuat perajin angkat tangan. Mogok memproduksi tempe dan tahu pun menjadi pilihan.
Ketika produksi terganggu otomatis jumlah yang bisa ditawarkan kepada masyarakat menurun tajam. Meski masih ada di pasaran, namun pasokan tahu dan tempe di pasaran tidak sebanyak seperti biasanya.
Meningkatnya harga kedelai bukan tidak diketahui oleh pemerintah. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa telah meminta Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk memantau harga kedelai di pasaran.
Namun kenaikan harga kedelai tidak bisa dihindarkan. Kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat menyebabkan turunnya hasil panen. Penurunan pasokan kedelai dunia membuat produk pertanian menjadi langka, padahal konsumsinya tinggi.
Padahal konsumen kedelai tersebar di banyak negara. Selain Indonesia yang banyak mengonsumsi kedelai adalah China. Seperti masyarakat Indonesia, masyarakat Tionghoa juga merupakan konsumen tahu yang tinggi.
Menurut Menko Perekonomian, faktor utama yang menyebabkan tingginya harga kedelai adalah China. Tingginya permintaan di negeri raksasa itu menyebabkan harga kedelai dunia melambung tinggi dan kita di Indonesia menerima akibatnya.
Bagi kita penyebab utama sebenarnya terletak pada menurunnya produksi kedelai di AS. Sebab, kedelai bukanlah tanaman yang terlalu sulit dibudidayakan. Meski kita sadar tingginya ketergantungan kita terhadap impor, namun kita tidak pernah berupaya untuk memperbaiki sisi produksi di dalam negeri.
Padahal kita tahu betapa pentingnya kedelai bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Kita pun tahu berapa besar devisa yang kita habiskan untuk impor kebutuhan pangan. Namun setiap tahun yang terjadi adalah meningkatnya aggregate impor.
Sekarang kita bisa merasakan beratnya ketergantungan impor tersebut. Sekarang baru kedelai, besok bisa jadi keterbatasan pasokan itu terjadi pada jagung, gula, dan juga beras. Ketiga bahan kebutuhan pokok masyarakat itu pun selama ini pemenuhannya tergantung pada impor.
Apakah kita tidak mempunyai kemampuan meningkatkan produksi? Setidaknya untuk kebutuhan pokok utama rakyat, kita benar-benar swasembada. Kita mampu memenuhi kebutuhan pokok itu dari produksi kita sendiri.
Negeri ini adalah negara agraris. Pertanian bukan kegiatan yang asing bagi warga bangsa ini. Sekitar 70 persen rakyat hidup dari sektor pertanian. Hanya saja kita tidak pernah mengoptimalkan potensi bangsa ini.
Tenaga ahli pertanian juga banyak kita miliki. Pusat-pusat penelitian bahkan sejak zaman Belanda sudah ada di negeri ini. Namun kita tidak pernah memberdayakan para ahli itu dengan pekerjaan yang menantang. Tidak usah heran banyak tenaga ahli terbaik kita kemudian pindah ke Malaysia.
Yang kita butuhkan hanyalah visi pembangunan yang ingin kita capai. Kita butuhkan gagasan besar seperti apa yang ingin dilakukan. Setelah itu tinggal bagaimana kita konsisten untuk melakukan apa yang kita hendak capai itu.
Kita terlalu sering berputar pada wacana saja. Tidak pernah ada tindak lanjut dari apa yang kita maui. Kita selalu merasa bahwa jika sudah diucapkan berarti sudah dilaksanakan. Tidak usah heran apabila akibatnya untuk kedelai pun kita tidak mampu mencukupinya dan industri tahu dan tempe pun ikut merana.
