Satelit9.com-KITA bersyukur perayaan Idul Fitri berlangsung lancar. Semua orang bisa merayakan lebaran dengan suka cita. Kegembiraan tampak dari raut wajar semua orang yang merayakan hari kemenangan.Satu insiden yang kita sesalkan terjadi di Solo menjelang lebaran. Selama dua hari berturut-turut kita menyaksikan ada aksi teror yang dilakukan terhadap pos polisi di kota itu. Pertama ada penembakan dengan senjata dan kedua menggunakan granat.
Tidak ada korban memang dalam dua teror tersebut. Namun di tengah persiapan warga untuk merayakan Idul Fitri, kita sangat menyayangkan ada tindakan yang menimbulkan ketidaktenangan di tengah masyarakat.
Kita belum mengetahui burden dari aksi teror tersebut. Polisi sedang melakukan pendalaman untuk mengetahui siapa pelaku aksi teror tersebut dan apa burden di belakang tindakan yang mereka lakukan.
Kita hanya mengingatkan agar jangan sampai ada pihak-pihak yang mencoba bermain api. Apalagi itu dilakukan hanya untuk kepentingan politik sesaat. Sekadar untuk mendapatkan keuntungan politik jangka pendek.
Wali Kota Solo Joko Widodo menyatakan keheranan bahwa kota yang dipimpinnya tiba-tiba menjadi sasaran teror. Tidak tanggung-tanggung dua hari berturut-turut aksi teror dengan menggunakan senjata yang berbahaya mengancam masyarakat.
Kita menangkap kekhawatiran Jokowi bahwa dirinya menjadi target. Setidaknya ambition untuk menunjukkan ketidakmampuannya menangani Solo. Sebab, tiba-tiba kini dirinya menjadi kandidat kuat untuk menjadi Gubernur Jakarta.
Tentu kita berharap, apa yang dikhawatirkan Jokowi itu tidak pernah ada. Apa yang terjadi di Solo murni tindakan kriminal. Itu hanyalah merupakan ulah dari orang-orang tertentu yang ingin menciptakan ketidaktenangan di tengah masyarakat.
Terlalu mahal harga yang harus kita bayar apabila politik menggunakan cara-cara teror seperti itu. Cukup sudah pengalaman di masa lalu ketika gerakan intelijen dipakai untuk kepentingan politik. Intelijen dijadikan alat untuk merusakkan citra seseorang yang tidak disukai kelompok penguasa.
Kita pernah melihat bagaimana orang seperti Ali Sadikin sampai menjadi korban. Bahkan bukan hanya Ali Sadikin yang dicitra buruk, tetapi tokoh-tokoh kritis yang masuk kelompok Petisi 50. Bahkan dengan rekayasa tertentu orang seperti mantan Panglima Kodam Siliwangi HR Dharsono harus mendekam di dalam penjara.
Tidak hanya itu, teror juga dilakukan kepada keluarga tokoh-tokoh oposisi. Bahkan sumber-sumber ekonomi untuk kehidupan para tokoh itu sampai ditutup kerannya, sehingga tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat.
Kita sekarang sudah tidak hidup di era itu lagi. Sekarang kita sudah memasuki era demokrasi, era yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Tidak sepantasnya apabila di era demokrasi sikap dan perilaku kita masih seperti di masa lalu.
Semua kita harus berupaya untuk menghindarkan tindakan-tindakan seperti dulu sampai terjadi lagi kini. Terutama kelompok masyarakat madani harus berdiri batten depan untuk mencerdaskan masyarakat agar mau dipakai sebagai alat kepentingan kelompok politik.
Perjalanan membangun demokrasi yang sesungguhnya memang tidak ringan. Terutama untuk mengubah cara pandang kelompok masyarakat yang berpikiran sempit. Apalagi ketika lembaga yang seharusnya menjadi pengawas tidak berani tegas.
Baru saja kita lihat bagaimana seorang yang mengaku mubaligh menggunakan profesinya untuk kepentingan politik. Ia memang berdalih hanya melakukan syiar agama. Namun ketika itu disampaikan ketika ia sedang bersama seorang calon gubernur, sebenarnya ia bukan sedang melakukan syiar agama, tetapi jelas bermain politik.
Namun kita melihat bagaimana Panitia Pengawas Pemilu tidak melihat sebagai sebuah pelanggaran. Ketika kita tidak mampu menegakkan aturan secara tegas, maka demokrasi sangat mudah untuk dibajak kelompok tertentu.
Kita sengaja angkat masalah ini, sekali lagi untuk mengingatkan kita agar tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Bermain api dengan cara seperti itu hanya akan membakar demokrasi yang sudah dengan susah payah kita bangun.