Satelit9.com, Bogota- Pemimpin kelompok pemberontak FARC, Senin (15/10) waktu setempat, mengumumkan penundaan pembicaraan perdamaian dengan pemerintah Kolombia yang seharusnya digelar di Oslo, Norwegia, pekan ini.Pemimpin FARC Timoleon Jimenez mengatakan kepada televisi RCN dan radio La FM, penundaan dilakukan antara lain karena surat perintah penangkapan terhadap penberontak belum dibekukan dan kesulitan pengangkutan untuk ketua perunding Ivan Marquez, orang kedua FARC.
Ketika ditanya apakah Marquez bisa pergi ke Kuba, dimana delegasi Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) akan melanjutkan perjalanan ke Norwegia? Jimenez mengatakan, masalah logistik dan cuaca telah menunda kepergiannya, namun ia tidak menyebutkan apakah Marquez kini berada di Kuba.
Meski demikian, "Kami akan mencapai Oslo, atau tempat lain dimana chat berlangsung, karena kami tahu bahwa kami mengambil langkah maju dan besar ke arah dialog."
"Dialog yang bertujuan mencapai rekonsiliasi antara rakyat Kolombia itu sudah merupakan satu kenyataan," kata Jimenez, yang juga dikenal sebagai Timoshenko, dalam jawaban video atas pertanyaan wartawan.
Ia menambahkan, pihaknya sebelumnya menyetujui pembukaan perundingan pada 17 Oktober bila permasalahan logistik telah teratasi sebelum tanggal itu.
Perundingan itu dibayang-bayangi kerahasiaan setelah tiga kali upaya sebelumnya gagal mengakhiri konflik setengah abad yang menewaskan ribuan orang di Kolombia.
Akhir September, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos menyatakan optimistis pemerintahnya bisa mencapai perjanjian perdamaian dengan kelompok pemberontak FARC pada tahun depan.
Meski Santos tidak menetapkan batas waktu bagi penyelesaian perundingan perdamaian, ia menyatakan ingin proses itu berlangsung selama beberapa bulan, tidak bertahun-tahun.
Pada 19 September, pemimpin kelompok gerilya Marxis itu mengatakan, negosiasi perdamaian dengan pemerintah Kolombia tidak akan terikat oleh batas waktu meski Presiden Juan Manuel Santos mendesak agar perundingan diselesaikan dalam beberapa bulan.
Pemimpin gerilya yang nama aslinya Rodrigo Londono, namun lebih dikenal dengan sebutan Timoleon Jimenez atau "Timoshenko", mengungkapkan harapan besar untuk mengakhiri konflik setengah abad dan mengatakan, FARC siap melucuti senjata pada akhir proses tersebut.
Namun, dalam wawancara yang diterbitkan di situs berita Partai Komunis Kolombia, ia mengecam Santos karena mendesak agar perundingan itu, pertama dalam satu dasawarsa, diselesaikan dalam waktu beberapa bulan.
"Itu harapannya sendiri, tidak sesuai dengan yang disepakati dalam surat atau semangat pertemuan penjajakan," kata Timoshenko, menunjuk pada pembicaraan di Havana yang membuka jalan bagi perundingan perdamaian.
Perundingan akan dibuka di Oslo dan kemudian dilanjutkan di Kuba.
Pemimpin FARC itu mengatakan, perjanjian untuk memulai lagi negosiasi memerlukan pembicaraan rahasia dua tahun di Kuba/ "Meski kami pikir pada awalnya itu hanya akan memakan waktu beberapa pekan".
Timoshenko, mantan mahasiswa kedokteran yang melakukan pergerakan bawah tanah pada 1980-an, menjadi pemimpin kelompok FARC pada November lalu.
Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa FARC menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian.
FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964.
Pemimpin FARC Timoleon Jimenez pada April membantah bahwa usulan negosiasi dengan pemerintah mengisyaratkan gerilyawan berniat menyerahkan diri.
Pemimpin FARC itu mengatakan, kesenjangan kaya-miskin di Kolombia harus menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam perundingan mendatang.(Joko)